Kincir Rasid


KINCIR RASID

Kerja serabutan, mengaku petani cuma sekedar penggarap sawah dilereng gunung yang bukan miliknya. Ini reaksi teman teman dan tetangga sekitar ketika Rasid, mengutarakan niatnya membuat proyek mini hidro dengan memanfaatkan sungai yang mengalir didesanya.

 

Andung Biru di kaki gunung Argopuro, Probolinggo, Jawa Timur, 48tahun lalu lahirlah Rasyid. Seperti anak desa lainnya, untuk menempuh pendidikan Sekolah Dasar ia harus menempuh jalan setapak sepanjang  6 kilometer, sekitar satu jam perjalanan pergi dan satu jam pulang.

Bagi bocah Rasyid, masalahnya adalah sepulang sekolah saat ia harus mengerjakan PR dan Mengaji, di malam hari. Satunya sumber penerangan adalah Lampu Teplok. Dengan keadaan ekonomi paspasan seorang penggarap sawah, terkadang rumah harus gulita manakala kerosinpun mereka tak mampu membelinya.

Subuh ia harus sudah bangun. Mengerjakan PR. Sebelum berangkat sekolah.

Tamat SD ia merantau ke Probolinggo masuk sekolah kejuruan. Cita-citanya tamat sekolah nanti ia buka bengkel sepeda. Tetapi sekolah butuh biaya. Ia menjadi penarik Becak sambil sekolah. Sayang, impian menyelesailan SLA harus dikubur pada usia 19. Ia jatuh sakit dan harus keluar sekolah. Pulang ke kampung, iapun bertani apa saja di tanah milik negara.

Tahun 1992, saat Lebaran ia mengunjungi pamannya di Jember, 50km, dari kampungnya. Sang paman bekerja di perkebunan. Penerangan listrik di Perkebunan, sangat menggoda pikirannya. Ternyata listrik bukan dari PLN melainkan dari Kincir Air. Begitu diijinkan sang paman melihat benda idamannya ia langsung mengukur dimensi kincir, menggambar diagram.

Sampai di rumah, ide dibicarakan kepada keluarganya.

Hanya Ayahnya sekalipun heran tak percaya, yang mendukung cita-cita mengubah kayu dan air menjadi listrik.

Ia sudah menemukan air yang mengalir 7x24jam dan tidak pernah kering sepanjang tahun. Air sungai harus digrojokkan ke suatu titik yang lebih rendah. Minimal 3 meter dibawah muka sungai. Lantas Kincir dan Genset dipasang disana.

Untuk bikin saluran dan kincir, dua ekor sapi ayahnya ia jual. Sekarang bagaimana mendapatkan GenSet sementara dana sudah kering. Untung saja ada donasi genset rusak yang segera ia perbaiki.

Namanya coba-coba sendiri.

Waktu utak-atik kincir air ia mengalami kecelakaan. Tangannya terjepit. Ia harus 4 bulan terbaring dirumah dengan patah tangan dan rusuk yang retak.  “makan saja disuapi” kenangnya.

Kecelakaan kedua, mencoba Generator. Ia kesetrum. Pingsan dan tergeletak di sabuk dan roda gila. Bekas luka pada paha masih nampak sampai sekarang.

Banyak nian parut pada tubuhnya, tapi petani merangkap santri ini malahan mendeklarasikan Jihad. “Jihad selalu banyak tantangannya. Itu biasa..”

1994 setelah dua tahun berkutat kurang uang, sendirian, kaya akan cercaan. Genset sudah bisa mengalirkan listrik.

Setelah berhasil ia mengutip biaya 27 ribu perbulan. Kalau penduduk tidak punya uang kes, bisa dibarter dengan Telur, Ikan, Ayam, Buahan atau apa saja. PLN akhirnya masuk desa dengan tarikan 270 ribu perbulan, itupun tegangannya sering onjlag-anjlog. Akhirnya mereka melirik kembali ke Kincir Rasid.

Cerita selanjutnya tentu akan ada di Kick Andy dan sebagainya… Saya cuma senang quotenya. Dan biasanya KEARIFAN LOKAL sering dibunuh oleh kita sendiri. Boro-boro disupport.

Berikut motivasinya..
“Kalau kamu menyerah, hanya karena dibilang bodoh. Maka kau lebih bodoh dari mereka”
“Kalau kamu diejek, gunakan itu sebagai motivasi..”
“Kalau kamu dibully, itu bagus. Sebab membuatmu berfikir, tunggu aku buktikan bahwa kalian salah..”

Reportasi keberhasilannya ditayangkan di media Luar Negeri. Yang biasanya kita malah “biasa-biasa” saja.

#Rasid petani padi Andung Biru Probolinggo
#Gara-gara lebaran 1992 mengunjungi rumah Paman di Jember. Listrik rumah paman dari Kincir Air jaman VOC
#Tapi Kincir air Jember terbuat dari metal. Digerakkan dengan tenaga “overshot” tabrakan ke roda kincir
#Rasid memodif dari kayu dan tidak perlu tenaga Tabrakan untuk menggerakkannya.

Advertisements