Renungan Candi


Bre Redana seorang wartawan Senior mengunjungi Candi di Gunung Penanggungan Kecamatan Gempol. Didirikan masa Raja Airlangga dari Kahuripan, Kediri pada abad ke 11.  Ada dua dewi disana yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi.

Dewi Laksmi sedikit membungkuk sambil memegangi payudaranya. Lalu dari kedua teteknya mengucurkan air ke sendang. Dipercaya bahwa Sendang ini diperuntukkan sebagai tempat mandi  permaisuri Raja Airlangga. Dan masyarakat percaya bisa awet muda bilamana mandi disana.

Candi ini dinamakan Candi Belahan. Ada yang bilang Candi Tetek.

Raja Airlangga sendiri digambarkan sebagai Wisnu menunggang Garuda. Sayang Wisnu sudah tidak ada lagi di Candi terpencil ini.

Di Gunung Penanggungan, cuma diketahui ada pasir dan bebatuan. Masyarakat setempat menganggap  puncak ini sakral. Ada ratusan candi dipunggung pegunungan ini. Mitos mengatakan  pasir dan batuan disana adalah salah satu “sample gunung  Mahameru yang dipindahkan kemari.

200px-airlangga

Mendengar dongeng dari pemandu sambil makan jagung bakar, diantara kabut dan gerimis, membuat Bre Redana yang nama aselinya Don Sabdono ini mengaduk-aduk masa lampau dengan masa kini. Zaman NOW. Maklum ia penggemar Umberto Eco. Umberto seorang penulis Italia salah satu kata mutiaranya :

Umberto Eco: ‘People are tired of simple things. They want to be challenged’

 

Leluhur kita yang orang orang Hindu nampaknya sejak dulu kala telah memberi pelajaran bahwa KEBENARAN itu tidak selalu kasat mata. Bahkan sebaliknya seperti Babad, ditulis dalam bentuk dongeng, seperti bubur ayam, mereka merupakan ramuan antara kronologi sejarah, aduk dengan  fiksi (rekaan) lalu di kepyuri gaya magis.

Sejarah dibaurkan dengan Legenda, Fakta dicampur dengan Mitos. Sejarah bukan sebuah kronologi kejadian melainkan proses Rekayasa, Rekonstruksi dan Mobilisasi yang dibangun penuh kesadaran.

Lantas Bre menghubungkan kisah Candi dengan fakta jaman Milenial, jaman digital. Ramuan purba tersebut masih relevan.  Orang masa kini lebih percaya “delusi” ketimbang nalar dan akal sehat. Hoax, disumpah serapah namun makin menjadi-jadi.

Delusi ialah ketika orang ingin mendengar apa yang ia inginkan. Kalau cocok dengan “maunya”, tidak perduli itu fiksi, maka jadilah “INI FAKTA!”.

Sebuah Becak di depan muka adalah fakta. Namun manakala kita ingin benda sebagai barisan (artinya lebih dari satu) Taxi. Maka diciptakan “delusi” agar kita percaya  didepan kita memang puluhan Taxi beroda empat berjejer rapih, tertib, mudah diatur  seperti pengendara Taxi di Singapura.

Candi-candi seperti membenarkan bahwa mereka yang berniat merongrong lawan akan terus menerus  memproduksi PROVOKASI, menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi kenyataan. Begitu pihak lawan terprovokasi maka terciptalah yang tidak ada menjadi benar-benar ada.

Tahap selanjutnya lancarkan Agitasi dan Propaganda.

Korban sudah jatuh. Orang baik gampang sekali tersingkir.

Kita berada di jaman Fiksi mengatasi Fakta.

Lantas dimana sekarang Fakta dan Kenyataan. Ia ada di alam.  Ilmu harus dikembalikan melalui alam kepada masyarakat, melalui kebudayaan.

Itulah wangsit yang diterima Bre saat merenung sambil makan jagung bakar di candi Belahan ditemani Jagung Bakar dan Nyeruput Kopi.

arjuno_welirang_penanggungan_from_sidoarjo

 

 

img_00491

 

 

Advertisements