PRASASTI BATIN


PRASASTI BATIN
Mereka tertawa, berteriak, menunjuk ke atas.

Tetapi kalau yang model “pendendam” seperti saya, telunjuk ini mengukir kenangan indah dalam prasasti batinnya.

Kelak kalau mereka melewati CitraLand – prasasti itu hidup seperti batu Krypton – endut-endut..

Dia akan bicara kepada anak, cucu bahwa pernah diundang teman nama Gaby (Elsa gaun merah), dikasih Ayam Goreng, Tas sekolah, Lunch Box.

120 menit yang bermakna dalam kehidupan mereka..

Kilas balik 60 tahun lalu…

Saya masih kelas satu SD, di Sukabumi. Bapak pendidikan SPN. Kami ngontrak di jalan Selabintana. Satu dari komplek luas milik Nyai Belanda. Nyai artinya orang Sunda yang menikah dengan Londo Totok. Ini memang bahasa sono.

Anak-anak Belanda Totok, Belanda Indo, Belanda Nyai dari Onderneming Teh GoalPara mengundang acara Cari Telor Paskah.

Itu kali pertama diperkenalkan kata “Telor Paskah”.

Akibatnya cuma “nunak-nunuk” bengong melihat Sinyo Belanda kendati umur kelas satu SD tapi badannya setinggi emak-emak saling tunjang-palang  berlarian diantara kebun Nanas mencari dimana Telur Paskah disimpan. Karena saya tidak dapat satupun, Pulangnya memang saya dibawain telur tersebut.  Ternyata  Belanda tidak selalu jahat.

Dan masih ingat sampai sekarang.

Advertisements