GEMPA


Gempa pada Selasa 23 Januari 2018 Siang jadi bikin saya ingat latihan yang kami dapatkan selama bekerja di Rig.
 
Di sini kami memiliki jadwal tak terjadwal. Artinya seminggu sekali akan selalu ada latihan bencana tanpa pemberitahuan kapan akan di lakukan.
 
Ini akan melatih reaksi cepat, sekaligus membuang jauh instink yang cenderung “deny” dan menjawab sendiri pertanyaan “ah cuma latihan,” atau ” “cuma gempa kecil..” yang religius mengatakan “pasrah, serahkan sama yang diatas” – sampai lupa, Tuhan memasrahkan segumpal daging, “otak” namanya yang lebih besar ketimbang mahluk manapun di dunia, untuk berfikir, agar bisa terhindar dari marabahaya sebisa mungkin.
 
Dalam latihan bencana ini akan ada target waktu. Bila tidak memenuhi syarat. Latihan akan diulang sesering mungkin. Sampai kecepatan reaksi bisa diterima. Latihan bisa jam 7 pagi, 7 malam atau 03:00 dinihari bilamana dirasakan perlu.
 
AJI di MADUKISMO
Teman di Yogya yang juga mudlogger bercerita ketika Yogya dilanda gempa. Butuh hampir setahun lamanya saya membujuk agar ia mau menceritakan traumanya. Dalam kasus ayah dua anak ini bercerita ia pagi itu saat kejadian ia sedang di “Njedhing” kamar mandi di kawasan Madukismo – Yogya.
 
Tiba-tiba kepalanya merasa pusing, ia pikir tekanan darahnya meninggi (ia memang hipertensi). Namun hari itu air kamar mandi bergolak diluar kebiasaan.
 
Beberapa saat kemudian masih dalam kamar mandi dan berbalut sehelai handuk, sebuah kekuatan dahsyat membanting ke dinding kamar mandi. Ia pingsan.
 
Tidak tahu berapa lama ia demikian, saat sadar, melupakan rasa sakit, “mbrangkang” menuju kamar tidur keluarga. Ia gendong kedua putranya dan bersama istrinya bermaksud ke jalan raya.
 
Sayang pagar depan terkunci dan sudah diblok oleh reruntuhan rumah tetangganya. Yang menakutkan – tanah yang retak seperti jeritan jutaan peri dari alam bawah sana.
 
Sejatinya mas AJi wanti-wanti kepada saya untuk tidak bercerita. Ia merasa dikejar salah, tidak cepat-cepat keluar kamar mandi untuk menolong dua balitanya saat itu.
 
HENDRO di PADANG
 
Mas Hendra almarhum, berada di Padang untuk tugas penerbangan. Ketika Gempa dahsyat terjadi ia ada dalam hotel.
 
Melihat lampu gantung berayun. TANPA BANYAK PIKIR MENUJU KE MUSTER AREA.
 
Tidak lama balok beton dibelakangnya roboh. Kalau saja ia berandai-andai saat itu.
 
Alam memilik cara kerja yang tidak sama dengan pikiran kita. Namun bisa didekati dengan mantera, “tidak ada false alarm”. Kalau memang false alarm, anggaplah sebuah latihan. Tidak akan ada ruginya.
 
Sekaligus test apakah kita masih mampu menuruni tangga. Sebab kami pernah berlarian dari lantai 6, dan beberapa teman terduduk di lantai 3 habis napas dan panik. Belum lagi yang pingsan karena panik…
 
Jadi kalau melihat ada pujian terhadap pemimpin kita “TETAP TENANG” saya pikir itu bukan contoh yang baik.
 
Saya share foto saat Yogya Mei 2006..
Advertisements