Selamat Tinggal Kota Gudeg dan Gudeg yang ketinggalan


SELAMAT TINGGAL KOTA GUDEG – dan GUDEG yang Ketinggal.26169757_10213098458229133_4130238861590105427_n
 
Setelah beberapa berada di kota Gudeg Yogyakarta, sejak akhir tahun 2017,  tibalah saatnya meninggalkan kota yang selalu mebuat adrenalin berpacu setiap mendengar postingan di medsos mengenai kota ini.
Kami menggunakan jalan darat, dan pagi itu setelah pamitan tidak lama sudah meninggalkan kota Yogyakarta, menuju Jakarta melalui jalur Magelang. Ada yang pesan getuk Trio Magelang dan Wajik Week serta Bakpia Kurniasari.
 
Ada sekitar 40 menit, disebuah kota menjelang Muntilan, tilpun saya terbaca pesan “Assalamualaikum pak Mimbar, saya “Agus” sedang menuju ke Gancahan..”.
Lha kok ada pesan lain.
Pesan ke dua “Asalamualaikaum bapak, saya Yuli menuju ke rumah di Bekasi..
 
Celaka dua belas kali dua … Dua-duanya tidak bisa saya akomodasi..
 
Buru-buru saya tilpun balik..
 
Ada dimana pak?, saya sedang menuju nih…” kata rekan yang tinggal di Tentara Pelajar ini terputus-putus pertanda ada dalam kendaraan yang melaju.
 
Saya bingung.. nama kota belum terbaca kecuali ada warung dipinggir jalan tulisan MENERIMA PEKERJAAN NAFTOL… oh iya Medari..
 
Enteng tanpa beban, “maaf mas Agus saya sudah di perjalanan.”
 
Suaranya terdengar kecewa..Saya bisa memakluminya.  Mas Agus ini salah satu dari pernah menjadi tim saya. Ia direkrut karena memang reputasinya diperusahaannya terdahulu sudah bagus (bajak deh). Yang tidak bagus, selalu saja “ewuh pakewuh” dengan merasa aku ini berjasa dalam karirnya.  
Sudah dijelaskan berulang bahwa saya juga berhutang budi sebab bisa menjalankan peran sebagai pimpinan yang dibayar kantor untuk mencari karyawan terbaiknya.
Tapi ada juga sih mantan karyawan yang saat anak bungsu saya menikah saya kirim undangan via WA – membalas OK atau Maaf tidak bisa hadirpun, merasa terlalu berat baginya.
 
Namun yang lebih bikin hati saya flu berat ketika dalam suara kekecewaannya dia bilang “Lantas bagaimana nasib Gudeg kesukaan Pak Mimbar…” – Lha kok tahu saya suka Gudeg.
 
Yang itu sakitnya masih ada disini…
Dan saya menukas dengan Beban Berat…
“Haduh… ” sambil gleg..gleg.. mengelus jakun…
Tercium aroma sangit areh kelapa, suwiran ayam, kerecek, bau daun salam. Wasalam Gudeg.
Advertisements