SUKA DUKA KIRIM UNDANGAN PERNIKAHAN.


26047380_10213003230288494_8379041926271742527_n

Thok palu dijatuhkan, hari pernikahan diputuskan oleh kedua belah pihak. Jujur sih anak-anak yang memutuskan. Mereka mulai cari TKP resepsi.
 
Kami yang orang tua ada beberapa saat kita bingung, galau dengan perkembangan situasi terkini (nggak usah di elaborate alias dijlentrehkan), namun “show must go on.”
 
Maka yang pertama dilakukan adalah mengumpulkan alamat. Dari buku tilpun, dari Gmail, Kartu Nama, bekas Undangan, semua daya dikumpulkan. Tidak ada kata nanti dulu.
 
Alamat ini kami pindahkan ke spreadsheet, lalu disimpan di DropBox sehingga setiap saat bisa di akses dari Komputer maupun Smartphone. Google Spreadsheet, sungguh ciamik dalam melakukan tugasnya. Aplikasinya “free” dan sangat portabel.
 
Setelah alamat selesai disiapkan, lalu dicetak sebagai label.
 
Kami gunakan Computer Label, dalam hal ini saya mempercayakan kepada tipe RA-01273, label 37mm panjang dan 70mm lebar.
 
Dulu label ini aduhai harganya, tetapi entah mengapa mereka sekarang harganya bisa “harga pertemenan deket..”
 
Jadi database mengambil dari Spreadsheet, dikawinkan dengan Program APLI LABEL. Tidak perlu bingung dengan pernik “mail merge” segala macam. Tinggal pakai.
 
Sekalipun demikian harus dilakukan cross check.
 
Misalnya ada yang berkeras alamatnya di Kunciran Permai, padahal yang betul Kunciran Mas Permai. ATau Komplek Perumahan Antilop, padahal seharusnya Antilop Maju.
 
“Orang lelakiH emang kurang perduli detail..”
 
Dalam hal ini Google Map sangat membantu menelusuri alamat lengkap suatu daerah.
 
Penulisan Label ternyata tidak bisa sepanjang guwe mau. Ada trik untuk sedikit menyingkat seperti Kelurahan, Kecamatan menjadi Kel, Kec. Ini guna menghindari ada aksara yang tidak muat untuk dicetak.
 
Sambil mengumpulkan informasi alamat, jangan dilupakan bahwa Undangan yang dikirim, akan menentukan jumlah piring. Dalam kasus kami, quota undangan adalah misalnya 200, maka disinilah kejujuran diuji.
 
Kita bisa saja “nakalan” tetapi merasa cerdik dengan mengundang 300 undangan apalagi WA sangat ampuh dalam menerobos hambatan geografis. Ditambah dengan desakan membaca mantera sakti “toh tidak semua tamu datang,”
 
Tetapi resiko yang dihadapi adalah kalau terjadi overload, malunya itu sampai kemana-mana.
 
Godaan over invited ini sangat besar.
 
Begitu anda ketemu seseorang, teringat akan undangan, atau bisikan kerabat untung mengundang si A, si B, si C. Family terkadang over enthusiastic – sehingga mereka suka rela menjadi relawan “getok tular” seperti yang biasa di lakukan di desa jaman dulu.
 
Kebiasaan baik yang sekarang terutama diperkotaan bisa menjadi boomerang.
 
EKSPEDISI MANA YANG PALING TERPERCAYA..
Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, sebab selalu pakai buntut yang bertolak belakang “Tapi Murah..”
 
Semula kami menggunakan sebut saja JNE, lalu ketika mulai pinter mempercayakan kepada Wahana. Pernah juga dicoba dengan usaha BUMN, namun ongkosnya ternyata tidak murah. Lagian kantor mereka kerap putus nyambung, alias bisa tutup sepanjang mereka mau.
 
Begitu, barang terkirim, saya menggunakan aplikasi untuk mengecek dimana keberadaan kiriman kita. Pernah ada kiriman yang seminggu belumn sampai juga. Atas nasihat – diminta menggunakan alamat non formal, “di depan rumah putih tingkat, dekat bengkel tambal Ban.”
 
Etika menulis undangan juga harap diperhatikan, memang tidak mudah. Beristrikan Erni, kerap membuat saya garuk kepala ketika diundang dengan judul kepada “Mbak Erni”.
 
Saat menempelkan label luangkan waktu sebentar untuk meletakkannya tidak harus presisi, namun jangan pula mencang-mencong. Percaya atau tidak, kadang ini sering bawa-bawa nama sekolah.
 
Kalau lulusan SD kelas 2 misalnya, akan dikomentari pantes tidak becus lha cumaK lulusan SD 2. Tapi kalau lulusan S2, akan dikomentari lulusan S2 kok nempel label kayak orang mau pasang pamplet. Ngasal secara gitu.
 
Jaman kita masih berkirim pakai perangko, kemiringan perangko bisa ditafsirkan mulai dari “I Love You” kalau terbalik pasangnya, atau I like you kalau setengah miring.
Ada kerabat yang menyatakan berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Dalam hal ini barulah kita berani mencari “pemeran pengganti”.
 
Undangan adalah perwakilan diri kita. Menempelkan label hendaknya dikerjakan dengan “hati dan passion”, bukan asal-asalan. Juga tidak elok jika kita mengirimkan undangan kosongan tanpa nama.
 
Pernah kami di tilpun oleh ekspedisi, “pak kami tidak menemukan Blok L2.” Setelah dicek, cebul memang hurup I (India) dengan L (lima) kadang kerap membingungkan. Kesalahan ada pada saya.
 
Tilpun lain pak Ibu Muharti tidak ada. Ternyata salah mata saat membaca nama Mujiarti menjadi Muharti.. Maaf ya bu.. Kesalahan jebul ada pada saya.
 
Beberapa tetangga yang masih bisa dijangkau kaki saya datangi secara pribadi. 
 
Tok..tok..Spada..
“Siapa?”
“Saya Mimbar, mau menyampaikan undangan…”
[Nama Mimbar… gampang dikenal] ..sombong..mode.
Beruntung ditangannya ada segebok kunci rumah. Nyatanya saya perlu menyelesaikan satu lagu pakai tiupan trompet, iklan Bukalapak – menunggu beliau menemukan anak kunci yang sudah pas tepat tetapi tidak bisa dibuka gemboknya, lha “gregelan drijine.” Lalu dicoba dengan anak kunci yang salah, ya tetap tidak bisa membuka gembok, lalu memasukkan anak kunci yang setelannya. Dan baru bisa.. Voilla.. kok persis aku ya.. gopohgopoh.
 
Lain tetangga lain reaksinya..
 
Tok-tok.Spada
 
Situ siapa?” sambil matanya menembus bahu celingukan kalau-kalau nih orang tua bawa temannya.
“Anu bu saya tetangga, nama saya singkat Mimbar, rumah dipojok sana, nomor sekian, menyampaikan undangan”- nunduk sambil usap bahu kiri yang sudah disempitkan.
Saya tidak tahu ada rumah disitu..” – katanya lagi. Entah mengapa rumah dua belas tahun lebih disana masih belum dikenali keberadaannya.
 
“Saya suaminya Bu Erni,” masih berharap ada kata kunci yang perlu disebut.
Saya ndak kenal tuh” – katanya lagi.
 
“Ya sudah itu tidak penting, ini ada undangan tolong diterimakan, tugas saya selesai ya bu, Selamat Siang..”
[Nama Mimbar… gampang dikenal] ..sombong..mode. OFF, dia tidak kenal saya, heu heu
Dan tetangga yang tidak kenal tersebut hadir pada malam resepsi.
Bekasi, Jawa Barat  17422 masih dekat Jakarta juga, orang harus selalu waspada.
 
#the wedding
#Satrio Wicaksono dan Raini.
#Gedung Wanita Patra SImprug
#Minggu 171217
Advertisements