RAHASIA SANG DUKUN HUJAN


IMG_0412.jpg

SECRET of DUKUN HUJAN KAMI

Salah satu yang ditakutkan dalam mengadakan perhelatan adalah hujan lebat, air masuk sampai mata kaki, sepatu basah, rusak, perut kembung. Ceritanya bakal diturun temurunkan sampai anak cucu…

Minggu malam 17 Desember 2017, awanpun sudah “ngenthak-enthak” tebalnya. Ini hujan extrim kalau turun bisa seperti dikasih formalin. Tidak terkecuali di Gedung Wanita Patra Simpruk tempat resepsi nikah diselenggarakan.

Mas Dody Julianto sudah mengeluarkan “songsong” untuk mengakomodasi undangan yang mungkin bakal kehujanan. Itupun ia lakukan sedari akad akan dimulai. Jarak antar Gedung dengan lokasi Parkir lumayan jauh.

Naga-naganya seperti lagu “BUKALAPAK”, AKAD berlangsung dalam suasana Payung Teduh.

Alhamdulilah, cuaca kali ini extrim bisa diajak berdamai. Resepsi berlangsung dalam keadaan kering.

Di luar dugaan, saya banyak ditanya “pakai orang pintar” dari mana. Atau “serana” – ritual apa yang dilakukan. Misalnya apakah ada celana dilempar (ini gedung orang), atau ramuan cabe dan bawang ditusuk lidi.

Kami tidak menggunakan jasa tersebut semua terpulang dari kehendak diatas. Terlintaspun tidak saat itu. Namun sayapun amat menghargai warisan nenek moyang, soal kepercayaan ini.

Saya lebih percaya doa para undangan sekalipun singkat “mbok yao jangan ujan yak,” selama dikeluarkan dengan ihlas, ya Insyaallah dijabah Tuhan.

Ketimbang doa panjang 300 lembar dengan kecepatan 3000 kata per menit lantas “tegese opo”.

***

Tapi kok ada cerita yang berbau uka-uka.

Lalu ingat sepuluh tahun lalu . “Desember 2007” – TKP Kapling Pendidikan.

Memang diantara kerabat ada yang kesehariannya dianggap Orang pintar, melalui medium menyampaikan pesan bahwa sang mBauRekso rumah minta Lisong, Kembang Setaman, dan sedikit -ngomongnya sambil berbisik – XXXXX .
Suara televisi berbunyi “tuut.” Sensor.

Alasannya ini rumah masih dingin (baru dihuni), butuh biaya pindah seredhanya agar mahluk halus mau tidur sementara dirumah saudaranya kalau siang. Itu kalau yang dibicarakan “diwongke” alias dianggap wadagnya sama dengan kita.

Permintaan Lisong diganti rokok biasa dan request XXXXX (bunyi tuut) dicoret.

Acara siraman dan serah-serahan berjalan lancar awalnya.

Mendada Mak Pet, Listrik mati saat upacara berjalan di rumah, padahal ya sudah loos stroom. Begitu penerangan darurat seperti petromax dinyalakan – maka Anai-anai keluar semua dari sarang sampai Petromak tersumbat sayap mereka.Sepuluh tahun kemudian, kalau hujanpun daerah kami masih bisa disaksikan laron macam air petasan mercon muncrat saking jumlahnya banyak.

Kok ndelalah, semua peralatan listrik mendadak seperti over voltage, kulkas, AC semua mengeluarkan getaran akibat over heat. Padahal dari segi kekuatan sekedar angkat beban pengeras suara apalagi lampu penerangan Video. Ia tak mampu. Duh..

Biar cerita lebih liar, semua tamu undangan yang bawa mobil, pulangnya harus didorong. Bukan macet melainkan kepater. Jalanan kami belum di semen. Masih tanah merah. Dan hujanpun seperti ikut meramaikan saat itu.

Kami memang akhirnya harus mengganti beberapa peralatan listrik.

Fact not fiction.. Believe of not..Kejadian sepulh tahun lalu, bisa dilewati “Kanthi Aman lan Tentrem..”

Thanks God..

#Kapling PdK 17 Desember 2017
#Gedung Wanita Patra

Advertisements