FOTO TAK BERSAKSI


IMG_0381

Kemarin – saya memilah foto koleksi dari WA, FB Instagram, tentunya hasil potret saudara dan kerabat.  Ini dilakukan  sementara menunggu Official Released dari juru foto Vendor yang biasanya baru klaar dalam hitungan bulan.
Setelah mencari foto kerabat, sayapun mencari foto Saksi mas Yusuf Iskandar.  Kalau ketemu langsung saya forwardkan, sebab beliaupun bisa menjailkan foto menjadi tulisan menarik.  Saksi sering dilupakan. Padahal pernikahan tak bakal terlaksana tanpa saksi, iapun dibeberapa kepercayaan menjadi “GodFather” yang dinikahkan.
Sayangnya mereka biasanya di kejar-kejar saat dibutuhkan, lalu setelah ada kata “SAH” keluar dari bibir mereka, seperti dilupakan.
Ini tidak boleh terjadi. Bahkan dalam technical meeting ditulis foto dengan saksi.
Jebul, entah mengapa – ingatan bisa hilang begitu saja. Padahal, sempat saksi yang lain mas Erwin bersalaman dengan saya. Saya cuma sebatas berhola-halo, namun ternyata isi kepala tidak full  loading. Sehingga saya tidak sempat mengingatkan kepada pihak WO untuk berfoto.
Jadi agak malu juga ketika dapat pesan WA “Baru Ingat Saya Tidak Punya Potret dengan Pengantin..
Hopo tumon…..
Tapi namanya wong Jowo, tetap ada untungnya. Untung Satrio mendadak minta Siraman, jadi kami bisa berkumpul bersama kerabat, fota-foto bersama, potong tumpeng, makan cendol.
Jadi andai Acara Siraman di SKIP dengan alasan tertentu,  nama saksi hanya diingat oleh orang tua pengantin belaka. Dan perlahan pudar.
KILAS BALIK BEBERAPA TAHUN LALU

 

Sekali tempo saya dimintai menjadi saksi sebuah pernikahan kerabat. Seperti biasa, saya menyambut tugas ini dengan penuh antusias. Saya bilang sebagai dukungan, transportasi dan akomodasi di Bandung, biarlah kami tanggung. Idep-idep Libur ke Bandung tetapi kali ini obyek wisatanya adalah menjadi saksi.

Yang diluar dugaan dan sempat bikin mengkeret adalah setelah diberi tahu bahwa saksi pasangan saya kelak adalah Menteri BUMN yang sedang aktip. Namanya tak penting sebab bukan inti inti cerita.

Hari yang telah ditentukan,  dalam acara temu pengantin, kami berhadapan, saya hanya membaca secarik kertas karangan sendiri. Kertas itupun sudah kumal seperti dokumen serifikasi  yang mengikuti emas bodong jaman VOC. setelah mengucapkan salam, ucapan terimakasih kedua pihak tuan rumah, saya memperkenalkan nama saya, menyebut maksud tujuan kemari.

Sayang naskah serah terima yang baku yang biasa disuplai oleh  pengantin baru muncul setelah jaman now, jaman WO.

Pernikahan dan resepsi berlangsung lancar. Pak penghulu nampak sedikit “ripuh” menikahkan seseorang didepan menteri yang lengkap dengan pengawalan. Berkali-kali ia menyebut saksi kepada saya tapi menyebut pak Menteri kepada saksi satunya. Pak Menteri bahkan berkenan memberikan sambutan sekaligus semacam Kotbah Nikah tambahan.

Kelar akad nikah, lalu dilanjutkan makan siang.  Eufora lapar, mencicip makanan lezat, bertemu famili seperti biasa mengiringi sebuah perhelatan. Ditambah ini pesta kebun.

Saya tak memiliki dokumentasi babar blas berupa foto sepotongpun bersama pengantin apalagi bersanding dengan Menteri (Kumis). Dan berjanji ini jangan terjadi pada anak keturunanku…

Lha kok sekarang terulang lagi terhadap saksi saya. Duh..

 

Advertisements