WO Jilid Tiga (3)


Acara Akad Nikah, umumnya membutuhkan upacara Serah Terima. Pihak Putra (CPP) menyerahkan putranya kepada pihak CPW (Putri), untuk dinikahkan. Peranan pihak WO adalah menyiapkan naskah serah terima. Naskah ini mau dibaca boleh, tidakpun tidak mengapa. Kenyataannya ia kelak berguna. WO juga berusaha meyakinkan apakah Penghulu sudah “ngeh” jadwalnya pada hari “H” tersebut. Meyakinkan tidak ada gangguan transportasi.

Isue yang biasa menyertai upacara sakral ini adalah penyebutan nama kedua belah pihak yang biasanya kita tidak gampang mengingatnya. Contohnya (contoh lho) karena nama anak saya Satrio Wicaksono maka logika lurusnya nama ayahnya Mimbar Wicaksono.  Padahal nama saya Mimbar Bambang Saputra.

Disinilah kertas secarik memberikan sumbangsihnya karena sudah berisikan nama pelakon secara baik dan benar. Ada pelakon yang minta gelar sekolah disebut sampai ke Haji dan Hajjah, ada yang diupayakan sesederhana saja.

WO melalui MC akan memberikan arahan kepada para undangan untuk mematikan peralatan tilpun genggam, mengawasi anak-anak yang masih kecil untuk tidak berlari kian kemari. Tidak boleh bertepuk tangan.  MC juga akan mengumumkan jalur evakuasi bilamana terjadi kebakaran atau gempa bumi, lalu apa yang harus dilakukan seandainya listrik padam.

Dari segi dokumentasi, alias ubo rampe Akad, WO akan meyakinkan bahwa kedua belah saksi sudah memiliki foto copy KTP. Jangan urusan sepele menghambat jalannya upacara.

Boleh percaya atau tidak. satu tas penuh, mamanya Satrio,  membawa lengkap fotocopy Ijazah, Akte Lahir, KK, KTP, Foto, 2×3, 3×4, 4×6 latar belakang merah dan latar belakang biru, disamping surat menyurat kami.

Bahkan copy surat ketika pergi ke RT, RW, Kelurahan, KUA tetap kami simpan arsipnya. Jauh-jauh hari, saksi kami mas Yusuf Iskandar sudah kami mintakan softcopy KTP dan tentunya kami buatkan fotocopynya. Kami juga mengantongi Meterai, buat jaga-jaga.

Rasanya urusan katebelece sudah beres. Tidak kami ijinkan kesalahan kecil mengganggu upacara pernikahan ini.

Bila upacara akad sudah dinyatakan selesai, dimana penghulu meninggalkan ruangan. Pihak WO akan mengantarkan Penghulu ke ruang parkir, bila membawa sendiri kendaraan, sambil memberikan sekedar ucapan terimakasih.

Tahap berikut adalah sungkeman, minta ijin kepada kedua orang tua. WO dan pihak hotel akan mengubah konfigurasi meja yang dipakai akad nikah, menjadi ruang untuk sungkeman. WO mengatur urutan yang akan duduk disana.

Diingatkan bahwa kita sekarang adalah wayang. WO dan Juru Foto adalah profesional yang melihat kita sebagai obyek yang akan diexplore keindahannya. Jadi setuju atau tidak yang terbaik adalah kooperatip. Kalau disuruh senyum ya senyum, tiarap ya merangkak.

Tahap ini sering disebut “udan luh” banjir air mata.  Pihak WO akan memberikan tissue pengelap air mata. Sebab air mata bisa diseka, tetapi ingus yang mengiringi, butuh tisu.

Hanya CPW mengucapkan aku minta ijin dan terimakasih atas selama ini, air mata sudah tidak bisa dibendung.

Tahap berikutnya adalah foto booth. Kalau waktunya mepet, biasanya acara ucapan selamat bisa ditiadakan. Dilakukan sambil lalu.

WO akan menarik Orang tua CPP dan CPW untuk bersalin baju sebagai persiapan resepsi. Mereka juga akan “memaksa” kita untuk makan, minum sebab jangan terjadi akibat over exitement, perut lupa diisi dan akhirnya kembung.

https://mimbarsaputro.com/2017/12/23/wo-jilid-dua-2

Advertisements