WO Jilid Satu (1)


 

WO.. jilid satu (1)
Sepuluh tahun lalu (Desember 2007) ketika Lia kawin dengan Seno, kami gagah melakukan sendiri. Artinya zonder Organizer. Satu dekade kemudian (Desember 2017), kami menikahkan Satrio dan kali ini sang kakak bilang “kita pakai WO”.
Diapun punya calon tunggal, Lolypop. Rupanya sang CEO, yaitu Gaga selain teman sekolahnya – juga sudah diamati berkali-kali “track recordnya”. Sudah sering mengadakan di Singapura dan negeri lain. Di Indonesia sekelas menteri pernah ditangani.
Awalnya WO mendapat reluktansi dari pihak kami. Mereka ingin semua acara, nama didokumentasikan. Pihak kami menganggap cerewet amat.
Yang menyanyi, harus terdaftar, ada WA yang bisa dihubungi.
Dia punya alasan. Kalau orang cuma berani pegang mike, terus suara burung gagak kena flu burung, masih tidak hapal lagu sehingga cora-cari kepekan di HP, eh lagu berakhir dengan terseret seret – masih nambah satu lagu lagi.
“Kasihan mood tamu-mules dengar orang fals nyanyi,” katanya. Saya cuma bisa mesem seperti perokok belum ketemu tembakau seminggu – kok guwe bingits..
Dia juga punya tugas menyaring “illegal Singer” – maksudnya boleh jadi mereka pemenang American Idol. Tapi kalau belum didaftarkan ya “nuwun samudra pangapura..”
Sebagai ilustrasi.. Anda berada dipanggung. Gerakan yang boleh dilakukan diatas sana hanya senyum, terimakasih, bersalaman, cipika-cipiki. HP semua dikarantina. Sering lihat pengantin inti sibuk jawab HP kan.
Jadi 3/45 haram hukumnya kalau main tunjak tunjuk sana atau teriak memberi komando. Kurang etis.
Lantas anda merasa haus.. Siapa perduli?.. keponakan, cucu, sudah berlarian kian kemari. Catering sibuk ngejog makanan. Keluarga heboh selfa selfi.
Disini petugas WO hadir. Saya baru menunduk saja mereka sudah mendekat. “Oom butuh minum?”
Ketika kami meringkes mengembalikan baju pinjaman, anak-anak muda ini langsung mendekat dan membawakan kopor ke mobil.
Apa cuma itu fungsi WO.. masih banyak..
Baca Juga
Advertisements