The Early Bird


Ibu Senam Kodau.jpg
Kelompok the Early Birds dari Kodau.

Ijinkan saya,  ikutan bahasa jaman now. mengucap “Mao nangis pake gedrug gedrug nggak lo rasanya“.  Saking bahagianya.

Betapa tidak, kami banyak sekali mendapat kejutan-kejutan dari teman, kerabat dan saudara. Salah satunya – the Early Birds.

Hari Minggu 17 Desember 2017, kami baru saja menyelesaikan etape pertama yaitu Akad Nikah. Kata “SAH” terucap pada 16:15 WIB, lantas diteruskan dengan sungkeman.

Pada pukul 17:30an, saya sudah melihat rekan saya dari jalan Kodau, juga dari Komplek PdK, sudah berdatangan sekalipun acara baru mulai dua jam setengah lagi, itupun kalau tidak molor.

Pertama saya lihat mas Teddy Sardy menggendong buah hatinya. Saya sampai tidak yakin akan penglihatan saya. Tidak sampai mengucek mata gaya lenong sih. Cuma bertanya,  bisa jadi orang lain yang mirip wajahnya.

Ia saya dekati dan wajahnya memperlihatkan “biasa ketemu saya“. Lalu saya tanya dengan siapa?  ia menjawab “Rombongan PdK.”

Boleh dong kitaH mengucap YaOlo, mruput secara gitu. Terimakasih banget atas perhatiannya. Eh detik yang sama saya melihat Toean Gou juragan bahan bangunan dan keluarga. Hebat.

Kalau saya tengok jam menunjukkan pukul 17:30, maka bisa dibayangkan jam berapa teman-teman ini meninggalkan rumah. Perkiraan 80% penghuni PdK datang semua.

Waktu  photo session bersama kami di pelaminan, deretan panjang dari ujung ke ujung warga PdK. Saya lihat Letkol Eko Wahyono sampai bolak balik cari posisi. Butuh waktu sedikit lama menzip mereka agar masuk kedalam frame foto.

Itu yang namanya Buahagiyah WarBiyasah..

Teman PdK, teman Kodau, kami sampaikan rasa suka cita dan penghargaan kami yang setingginya. Kami merasa sangat dihargai. Seriously. Sampai sekarang rasa bahagia itu belum juga redup.

Tapi bukan berarti itu saja. Keponakan yang saya lupa apakah pangkatnya sekarang. Entah sudah Mayor atau lebih,  seorang perwira Densus.  Namun sebuah LAKA membuatnya harus menggunakan tongkat penyangga, mudah-mudahan sementara. Belum dua minggu ia dioperasi dilepas “pen” pada kakinya.  Tak disangka ia berada dalam barisan untuk bersalaman dengan kami di panggung.  Ingatan kembali ia masih bocah dan saya memangkunya untuk bermain komputer game.

https://mimbarsaputro.com/2017/12/23/wo-jilid-dua-2

Advertisements