Melongok “Sniper” negara tetangga berlatih


Aqil seorang wartawan Strait Times Singapura – mendapat tawaran mengikuti Tentara Komando berlatih di Gurun Pasir Arizona, Amerika. Kebetulan mereka sedang menjajal senapan terbarunya yaitu M110 buatan Amerika dan senjata sniper TR22 buatan Finlandia.

Cuma syaratnya lumayan berat. Tidak boleh melakukan wawancara, dan hanya foto yang disetujui oleh Tentara yang boleh dimuat di harian tersebut. Latihan penempaan diri ini bersandi “Forging Sabre” – menempa golok.   Ternyata ada tambahan larangan, para tentara tersinggung kalau dipanggil sebagai Sniper.

Di Amerika, Aqil  dijemput oleh Chevy SUV,  melewati jalan pasir yang tak beraspal, menuju puncak bukit. Kadang kendaraan harus mengitar 360 derajat untuk mengalahkan keterjalan bukit. Hanya karena terpesona melihat alam yang luas yang belum pernah ia lihat sebelumnyalah membuat ia tidak mabuk kendaraan yang berguncang kesana kemari.

Sampai di lokasi seseorang berotot dalam pakaian kamuflase gurun, memberikan briefing dengan bahasa singkat mengenai pengoperasian dua jenis senjata ini.

M110 buatan US dikenal sebagai senapan serbu automatis  – digunakan untuk melindungi pasukan. Pasangannya TR22, buatan Finlandia, mempunyai laras lebih panjang sehingga memiliki jarak tembak lebih jauh. Namun setiap kali menembak, senjata ini kudu dikokang . Senjata dengan samaran inilah andalan penembak runduk, popornya dapat dilipat.

Namun Aqil dibisiki bahwa ada tentara sempal bahunya terkena efek tendangan balik sang senapan runduk.

Dalam obrolan dengan temannya ia mendapat berita forwardan. bahwa – tidak perlu bermata tajam untuk menjadi sniper. Toh sudah ada teleskop, senjata yang akurasinya tinggi, tahan berdiam diri berjam bahkan berhari itu yang berat. Itu saja yang ia dengar.

Seorang Komando mengawasi Aqil mencoba TR22 (Snipper). Semua teori tentang senapan dengan mudah dipelajarinya. Ternyata menambahkan peredam suara, malah membuat pengoperasian senjata tidak mudah.

Drama pertama adalah mencari musuh yang berupa kotak logam. Entah berapa menit ia tidak bisa menemukan dimana empat logam tersebut tersebar sebab jaraknya memang jauh. Kalau anda memegang kamera dengan telelens lantas membidik bintang, maka sedikit gerak saja, bintang akan menghilang dari pandangan.

Demikian juga dengan sniper. Setelah berkutat, dibantu oleh pelatihnya yang sabar, logam yang dicari terlihat dalam tele.  Sasaran masuk dalam Rambut Silang, pelatuk ditarik. Dar, tidak terdengar suara logam terkena peluru.

Peluru yang meleset, berarti anda memberitahukan lokasi persembunyian kepada musuh, apakah musuh akan menembak balik atau bersembunyi lebih jauh.

Setelah mencoba dan target meleset, Aqil berterimakasih kepada pelatihnya. Senjata diserahkan kepada komando. Tidak lama terdengar suara clank,clank,clank pertanda sasaran berhasil ditembak. Ia juga mendengar M110 di tembakkan secara otomatis dan diikuti cuara berdenting pula.

Ternyata para komando tersebut kadang sengaja menembak 1-2 meter off dari sasaran. Rupanya mereka memperhitungkan tendangan angin angin hal yang hanya bisa didapat dari latihan terus menerus termasuk di daratan Arizona yang banyak onak duri dan kaktusnya.

 

#Kepingin melihat komandotrg22_black_0forging-sabre-sniper-4 kita menuliskan pengalamannya

 

 

 

 

Advertisements