Gudeg


Beberapa tahun berselang kami melihat sebuah restoran kecil berdiri memulai usahanya. Sang Bos bertubuh tinggi, kulit terang, dan ayu. Masakan spesialtynya Ayam Panggang Madu.
Kami kesemsem dengan sang Bos, eh masakannya.
Tapi ada bau harum lain yang merebak. Adik saya terkena rumus “Dari Masakan Turun ke Hati” – sehingga tercetus kata “maukah engkau memasakkan hidangan lezat – memenuhi permintaanku?”
“Buat siapa masakannya,”
“Buat anak kita berdua, cie cie..”
Kemarin mantan Bos Restoran yang menghadirkan keponakan perempuan satu, buat mainan kami, telah memasakkan hidangan yang setahu saya (tadinya) cuma keahlian dimiliki “Mertua” dan menurun kepada putrinya seorang. Yang toko sebelah.
Namun tak dinyana, masakan ipar sudah lulus QC, sekalipun berkali ulang ia mengatakan masaknya dadakan, jadi nangkanya belum jelek bener..
Lha itu masakan tanah air, biasanya kalau makin coklat, artinya makin enak.
Saya mencicipi, maksudnya makan cantik. Tapi itu jebakan betmen – begitu satu suap, lha kok endes surendes, maka kami kalap tak terkendali.
Satu kali Keceplus chlipady warna orange, tiga rawit tergigiti. Ya gembrobos meleleh seperti erupsi gunung api. Keringat membuncah dari pori -pori sampai ndelewer masuk mata. Pedes dilidah, pedes di mata, denging ditelinga saking pedesnya..

Nikmat mana yang akan kau dustakan.
Dan cuma satu kata – Hajar bleh..

Advertisements