Celeng


Kekuatiran saya terjadi (sok wise), akhirnya celeng turun semak juga. Orang Singapore a.k.a Cina – secara Agama, celeng adalah halal adanya.

Namun secara aturan negara, binatang ini dilindungi, tidak sembarang “nggeragas” dibuat dendeng atau Bak Kut Teh.

Anak dan cucu saya tinggal di Punggol, sebuah kawasan dipinggiran Singapura. Masih banyak hutan dan gerumbulan semak. Apalagi salah satu program pemerintah disini adalah reklamasi pantai yang semula 45 hektar menjadi 120 hektar sekarang (2015). Hasil reklamasi dibiarkan menjadi hutan.

Semula saya berani mengajak mereka sedikit blusukan ke hutan. Namun belakangan kerapun ikut agresif membonceng sepeda – terutama yang bawa tas kresek.

Kakek Mimbar, kalau sedang di Punggol sekarang kerap jalan sendiri keluar masuk hutan dan melihat banyak Babi Hutan atau Celeng. Kalau ketemu dibalik pagar tak rapat, kita mengangkat tustel – mereka akan bersembunyi kedalam semak. Tidak seguru satu ilmu tetapi tidak saling ganggu.

Tapi itu dulu, saat Celeng boleh tenang di hutan jauh dari keramaian. Sekarang pembangunan hunian susun atau hunian lapis, terus dan terus maju pesat mendekati kerajaan mereka. Binatang inipun mulai terpapar – PLN 24jam, Manusia berteriak, suara mesin berat doser, truk, forklift saling bersahut.

Celeng hanya tahu bahwa wilayah kerjanya dari jaman nenek moyangnya ya disitu yangditandai dengan urine atau bau tubuhnya. Manusia mulai mengusik teritorialnya.
Saya mulai melihat tegalan/tebing kalau pagi sudah didongkel-dongkel kawanan ini. Di Tuas, misalnya, pemain golf harus merenges ketika mereka datang, lapangan sudah dedel duwel dibongkar celeng yang mencari cacing tanah.

Hari ini baca berita – hari Selasa 21/11/17 sekitar pukul 19 malam seekor Celeng mulai bingung berada di jalan raya bertemu binatang berkaki karet empat buah, bermata menyilaukan yang geramannya memancarkan hawa panas – dan bisa bersuara ala gajah. Akhirnya celeng menabrak mobil sampai luka, sekalipun tidak sebesar bakpau, dan pengacara celeng tidak perlu bilang “kalau lihat bapak celeng anda akan menangis melihat keadaannya..”

Polisi segera datang – memberikan bantuan.. Celeng sempat ditembak bius, lantas dirawat agar bisa dilepas kehabitatnya, namun sambil menahan luka mahluk ini marah. Dan seperti siaran berita kita “Korban Dilumpuhkan Oleh Timah Panas  ketika mencoba menyerang Petugas yang akan menangkapnya..”

Karena luka tembak pada leher, akhirnya dokter hewan memutuskan untuk mengakhiri penderitaan celeng ini dengan menyuntikkan cairan EUTHANASEA kedalam aliran darah hewan malang ini.
Sisi lain dari sebuah pembangunan yang pesat.

Yang masih ditunggu, adalah berita monyet masuk kedalam rumah.

Sebab saya sudah sering melihatnya mengintip rumah penduduk dari kejauhan. Kera adalah binatang suka belajar, ia juga belajar makan hamburger, hot dog, dim sum.. Semua ada didalam rumah penduduk.
Sejatinya ada perangkat CCTV sekitar TKP yang berfungsi mengawasi pergerakan sang Bagong.. Namun mahluk ini terkadang bisa lolos dari pengawasan.

 

 

Advertisements