Kalender


Belanja Seribu Rupiah sebulan untuk setahun.

Lelaki setengah usia ini berada diantara para penjual di pasar Grogol, seperti pak Tua yang Tape Ulinya tidak laku, Pak Tua melayani pengisian Korek Gas, Pak Tua yang menjajakan Air Ledeng pikulan, Bu Tua yang setia menjual gado-gado dan wuenak.

Tidak mudah menjajakan kalender.  Calon pembeli punya kiat khusus menolak seperti Tahun baru kan masih sebulan lagi, artinya masih lama.  Ada yang “ngarep” dibagi dari kantor, atau mitra kerja..

Lalu ada yang mencari penanggalan dengan bulan Jawa seperti Ruwah, Mulud, Bakda Mulud. Ketika yang dicari ada, mereka berkilah cari yang ada gambarnya.

Melihatnya ditolak berulang-ulang,  Saya mendekatinya lalu menggamitnya dari belakang. Kalendernya berapaan babang? – ia menjawab harga yang sama seperti beberapa tahun lalu.

Tentunya “ndak mentolo” kalau mau ditawar.

Di rumah, penanggalan “minimalis” ini paling favorit. Hurupnya besar, Zonder Gambar, warnanya cuma biru dan merah. Banyak ruang kosong yang bisa diberi catatan misalnya mbak Nani masuknya hari apa (asisten ini sudah mulai banyak minta libur). Kapan terakhir kuras toren. Pendeknya ia seperti buku harian.
Jaman NOW,  ada Google Calendar, ada Paper Dropbox, Ada Evernote tetapi fungsi kalender orde lama ini masih sakti.  Walaupun tahun sudah lewat kalender lama tetap disimpan, tidak boleh hilang, lha arsip Jhe.

Advertisements