Ijuk


Belakangan ini nyaris tiap pagi mruput kami musti cabut dari kota Bekasi, memberi salam dengan kerlingan mata pada poster Dedi Mizwar kepingin jadi Gubernur Jawa Barat (Asudalah jangan komen), lantas menuju Muwardi Raya Grogol. Hanya setengah jam jarak 30km bisa kami tempuh asal mau cabut sebelum 05.00 fajar. Sebuah bangunan 3 lantai peninggalan Mertua, di jalan Raya bernama dr. MAWARDI RAYA mangkrak bertahun, sama lamanya dengan angkot mangkrak yang rusak atau kirnya sudah tewas. Kami ketiban sampur merenovasi tempat pondokan para rayap ibukota. Kalau boleh dibilang, maka insan kamil yang bahagianya seperti melihat SN pakai rompi jingga adalah toko sebelah bantal. Ia seperti wong ngantuk disuguhi bantal. Kalau lebay .. “dia akan pasang FB… Ya Olo bahagia itu kalo bisa ngerenop rumah..” Pak Pardi dibantu Talib, Agung, Tarsum adalah eksekutornya. Kalau mereka bisa bikin CV maka dari tahun Nol sampai 32 tahun lebih urusannya adalah bobok, plester, ngaci, plamir, bobdraad entah apa lagi. Hari pertama adalah menyiapkan panggung steger, yang pak Pardi hanya bisa pakai dari Bambu. Beri dia steger besi maka yang dilakukannya cari bambu untuk injakan di atas steger. Bambu kami dapatkan. Namun kemarin sore saat kami di Bekasi ada tilpun masuk.. Tali ijuknya mannnnaH… Jrenghreng.. pengalaman seusia anak Sarjana, meleset satu cek list tertundalah pekerjaan dengan dalih…”biasanya..biasanya toko itu ada..tauk deh sekarang napah nyetok ijuk…” Kembali dalil sakti..if you not inspect donot expect.

Advertisements