Jambi – 1985


Sekitar 1985, saya ke Jambi sebab orang tua bertugas disana sebagai Polisi.
Ibu berbisik kepada saya,bahwa sebelum kami datang, Jambi mencekam, ada polisi ditembak oleh seseorang yang pura-pura membonceng. Sekarang kita mengatakan teroris.
“Lampu Asrama polisi dimatikan sebab kuatir akan ada serangan gelombang kedua.” kata ibu.
Teror ini segera diatasi, dan perburuan dimulai.
Sayangnya gelombang radio HT disadap oleh Orari sehingga berita perburuan cepat menyebar.
Pelaku dalam keadaan tertembak dibawa ke RS untuk diinterogasi. Namun kecuali keluhan sakit, lelaki ini tidak mau bicara.
Salah satu interogator lalu mengajak bicara dalam dialek lokal -dan dalam keadaan sekarat ia menjawab. Bahkan sempat mengatakan negara yang melatihnya. Namun ia segera sadar sedang diinterogasi, lalu terdiam. Waktu itu selalu Lybia yang ditunjuk batang hidungnya.
Uniknya, informasi ini tidak beliau dapatkan dari Suaminya (bapak saya), justru ibu yang bergerilya untuk mendapat informasi dari “anggota”. Dan jangan heran, ada micin didalamnya.
Pembakaran Polres Dharmasraya hanya mengingatkan saya bahwa kejadian ini puluhan tahun lalu pernah terjadi. Bahkan keluarga polisi terlibat didalamnya.
Perang proxy, justru dari dalam kita sendiri….
Advertisements