Oleh-olehnya IUD


Mantan mitra kerja saya, namanya pak Lanjar – tetapi sebaiknya saya samarkan sebagai Pak Uban, memiliki kenangan khusus atas putri semata wayang dari empat anaknya.

Setelah jebrat-jebrat, jebral jebrol ketiga anaknya lanang semua, maka nama Lanjar yang disamarkan Pak Uban tadi mulai was-was.. Dalam bahasa Jawa ojo-ojo “opo arep Pandowo Limo” opo kleb balbalan.

Maka pasutri ini rembug sehat dengan dokter, dengan suster yang kesimpulannya adalah KB tetapi yang mana? – kecuali “spiral.”

Setelah instalasi ” per keong” maka seperti pemimpin kita yang kena sindrom “yang lama pasti jelek” bagi pasangan Pak Uban, terhapus sudah aturan jalur genap, jalur ganjil, hari ibur atau hari kerja, Mau lewat trotoir atau bemper suka-suka. Bahkan jalan becek, atawa jalan gronjalan. Pak Uban jalan terus. Disponsori bu Uban tentunya.

Pokoke kata orang jawa tadi “tutug-no” alias puas-puasin selama per keong ada didalam sana.

IUD dilawan..

Apa mau kata, kecuali Hweladalah, “per keong” ringsek juga kalah digdaya dengan kejantanan pak Uban. Padahal jaman dulu belum kenal ramuan “HajarJahanam: yang iklannya barang sampai, buktikan, baru Bayar!

Singkat kata, mereka kaget bahwa 100% ampuh seperti kata bu Bidan puskesmas – kenapa memble juga. Jangan-jangan IUD KW ?.

Desi nama bontot ayu yang belum lama ini dinikahkan setelah tujuh tahun pacaran, lahir sambil membawa oleh-oleh IUD.. Bidan mengira ada Medusa ala Grogol.

Team medik keheranan. Akibatnya biaya persalinan direken gratis.

Advertisements