Didatangi Mantan


Minggu lalu “mantan” saya datang sambil membawa undangan. Dia jauh-jauh menggunakan motor. Dari jalan Mesjid Nurul Iman. Namun karena nama Nurul Iman ini seperti generik, harus di pertegas dengan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Rupanya “mantan” berhajat menikahkan anak ke empat, satu-satunya putri dari 4 orang anak-anaknya. Putri ini dipercaya memanajeri keuangan sang mantan yang sekarang kami sebut Pak Uban.

Begitu saya membaca undangannya maka menarilah WAZE dimuka, sebab sejak lelaki yang kerap dipanggil Pak Uban ini pensiun sebagai “pilot” – tak salah lagi posisi yang ia sandang otomatis jatuh “Mak -BLEG” – diwajahku.

Maka waze menampilkan Stasiun Spoor Rawa Buaya sebagai “mark” kawasan tersebut.

Kali ini saya bawa Tustel, ingin memotet ke empat  anaknya dengan tiga cucunya. Saya harus kucing-kucingan memotretnya – sebab nampak sekali ia sungkan.

Selain Pak Uban berbahagia, kamipun tak kurang “Mongkok-atiku” – betapa sulitnya menghidupi tujuh anak dari penghasilan sebagai pengemudi yang jujur. Masih hangat bagaimana ia kali ledek sebab setiap penyebutan Mal Ambassador, menjadi Gobak Sodor dan RSIA Hermina dengan Hernia. Kini Pak Uban, bisa menyejajarkan tarap hidupnya sama dengan sang majikan. Dia tidak perlu menonjolkan diri, orang sudah tahu.

Alhamdulilah berempat  boleh berfoto dengan ayahnya sambil pamer Toga tanda lulus Akademi. Tapi jangan dilupakan juga support ibu Wantini – sebagai “tiyang wingking” orang belakang namun ubet (ligat) menjaga asap dapur dengan membuka warung.

Selama masa bertugas, mulai dari pak Uban bekerja dengan mertua, lalu ditransfer kepada saya, dia tidak pernah meminjam uang. Atau kas bon. Toko Onderdil memberi pujian bahwa “driver” bapak satu ini nggak pernah mau ngemplang bon.

Pak Uban adalah sosok ayah yang bekerja dan mendidik dengan Suri Tauladan bukan dengan ChitChat berkotbah, kalau perlu tindakan intimidasi kalau anak ternyata berpendapat lain.

Artinya kalau setuju ia diam. Kalaupun menyangkal ia memilih isap sigaret dan kopi (dua-duanya kelas berat), lalu keluar rumah.

“Saya pusing kalau istri sedang ngajari anak-anak, jadi galak,” katanya. Nyengenges, seperti biasa.

Berbahagia full hari itu nampaknya pak Uban.. eh nanti dulu, satu anak tidak hadir merayakan perkawinan saudarinya.

Sebuah cerita lama, antar anak pernah terjadi pergesekan meruncing, sampai-sampai mereka tak bertegur sapa dan keterusan hingga kini. Sampai berlaku pepatah “dekat bau terasi, jauh bau melati”

“Sudah saya minta datang, damailah demi saudara, tetapi bagaimana, sampai nyesek kalau dipikirin, luka disini (bathin, sebab ia menunjuk dadanya), tapi sebagai orang tua ya kami telan sendiri..mereka sudah gede-gede.”

Nyesel aku menanyakan hal yang dipikir lumrah, malahan membuka luka lama. Inilah ekses “Lambe Turah”.

Sabtu 11 Nov 2017
#pakuban,paklanjar23518941_10212663686880121_9082046192104087596_n

Advertisements