LARANTUKA


Disebuah akad pernikahan saya seperti biasa cari teman baru. Korban kali ini sebut saja pak Boro asal Larantuka.

Dengar nama Larantuka maka zonder pikir panjang saya menarik arsip dikepala. Hardisk berputar “loading” tapi lambat. Malah pernah error “404” – file not found. Akhirnya arsip tercabut juga.

“Ah waktu tahun 1979 an kami, pernah menggalang dana untuk disumbangkan ke Larantuka…” Bukan pamer..tetapi sedang melongok topik pembicaraan agar emosi lawan bicara merasa “di-wongke” dimanusiakan.

Ah wajah ayah dua anak ini nampak sumringah. Saya makin agresif menambahkan..

“Sekampung meninggal saat tidur akibat uap racun gunung..” kata saya Ahlul Yaqin..

Spontan wajahnya keheranan.. kalau dikartunkan ada tiga tanda tanya muncul.

“Kok saya tidak pernah dengar ?, yang sering adalah tanah longsor atau gempa bumi…” katanya.

Langsung saya menghubungi penasehat spirituil saya.

“Mbah..dimana bencana uap racun yang fatal. ” Ya ampiyun.. itu kawah Sinila.. bukan Larantuka.. Saya sukses memamerkan dungu kepada orang baru kenal.

Lalu mulailah teknik pengalihan perhatian.

Bicara ngalor ngidul. Eh zonder ditanya pak Boro nyeletuk. Larantuka jadi maju setelah di bawah Jokowi. Tanpa sadar saya menjepret wajahnya.

Advertisements