Mendadak Kalasan


Pagi itu kami mendapat undangan menghadiri keramat menikah/pemberkatan di sebuah tempat ibadat di kawasan Bekasi Timur. Udara yang mulai panas sekitar 10 pagi mulai menyengat sebab upacara sudah seharusnya dimulai, pengantin dan rombongan masih di Hotel.
Persiapan dan lain-lain termasuk menenangkan pengantin putri yang sesenggukan akibat teringat almarhum ibunya yang telah meninggal dunia setahun lalu. Konon bapak Pendeta yang memimpin perkawinan – terkenal galak. Namun entah bagaimana, saya tidak melihatnya demikian.
KECELE TINGKAT DEWA.
Sembilan puluh menit – upacara selesai, perut rasanya sudah tingkat dewa – tuntutannya. Kebetulan panitia datang membawa kantong plastik besar. Kami bergembira, paling tidak ada akua pelepas lelah kek buah penghilang haus dan penambah fokus.
Jebule – kami kecele. Panitia melakukan terobosan, jumlah undangan versus Konsumsi mirip David lawan Goliath. Sebuah atraksi perhelatan nan fatal dalam sebuah pernikahan, lantaran urusan perut akan dibawa…mati.. Ini serius.
Menelan ludah sambil menahan lapar, kendati berbasa basi peres “kami datang bukan untuk cari makan tetapi cari saudara”. Sayang perut tidak kompromi mendengar bahasa-bahasi tersebut. Saya pikir cuma kakek yang tak tahu diri.
 Seorang bocah lelaki yang dibawa oleh orang tuanya – nampak gusar kepada orang tuanya.
“Ke Mal Ma!” katanya merajuk. Saya tidak menyalahkan bocah 6-7tahun. Kalau tadinya menyanyi “Baby Shark doodoo doo doo” dengan saya. Kini dia seperti JAWS si Hiu Galak.
Ia pasti sudah tersiksa lapar. Kakek juga.
Kamipun bergegas ke ke tempat parkir sekolah, dan kebetulan si JAWS – berubah menjadi beruang sirkus. Rupanya lega lantaran bebas dari acara menjemukan plus bonus zonder konsumsi setidaknya air kemasan.
Belum terlalu jauh, kami melihat “Ayam Kalasan” dengan atraksi mirip Ayam Hongkong lantaran masakan digantung didinding kaca. Kendaraan saya belokkan. Dan nasi sepertinya nikmaaat sekali. Apalagi dengan gigitan ayam bakar Kalasan. Itu masakan terbaik dengan bumbu masak, lapar apalagi plus gusar. Maka, masakan jejamuran malahan menjadi penyedap rasa.
Lupakan kobokan yang dikorting satu, meja yang tidak ada sendok dan garpu, tisu yang baru diremas ambyar. Lupakan itu semwah..
Tapi selain gusar sayapun khawatir hal yang sama akan menimpa kami, istilahnya akan diuji pada bulan Desember mendatang pada perhelatan yang diselenggarakan keluarga kami.
Advertisements