METROMINI JUJUR


Supmetromini.jpg

 

Tiga emak cantik ini kendati usianya sepantaran anak-anakku namun justru menjadi sahabat kami. Kedekatannya seperti RING SATU. Bagi mereka tiada hari tanpa olah raga, keringat belum kering semua,  seperti tidak mengenal diksi letih, mereka akan memacu kendaraan menerobos kemacetan lalu lintas, masuk jalan tikus.

Kadang ada jalan sudetan yang “bagus” tetapi milik militer, pastinya ada penjaganya, pastinya akan ditanya ngalor ngidul akan kemana.

Ternyata kalau menemukan masalah dengan petugas, ada seseorang yang di jadikan tameng, yaitu toko sebelah saya yang memang perawakannya mirip Polwan Senior. Biasanya Alhamdulilah berhasil. Bohong kok pake Alhamdulilah yak.

Soal makan sih mereka ketat menjaga tubuh sehingga menjadi “picky” dan kurang perduli akan rasa- yang penting adalah mengobrol dan tak lupa Selfi. Ini memang gaya emak jaman NOW.

Emak-emak ini seperti memiliki ensiklopedia kedai makanan. Kalau mendengar selentingan ada  TKP bagus punyaK. Zonder perduli makanannya “Yucky” lawan dari Yummy, maka salah satu dari mereka  akan melakukan investigasi, bahasa kininya Fit and Proper Test. Kalau dirasa cocok, maka foto  di BC – dan keluarlah kata sandi “Merapat KitaH” atau kadang diganti menjadi “Jalan Bareng KitaH“. Ciri emak-emak NOW ini gemar menambahkan hurup “H” di akhir kalimat, tetapi sering menyingkat seperti “dimariH”, di TKP,  gegara (gara-gara), maren (Kemarin), mayan (Lumayan), babang untuk “abang”

Salah satu kedai yang lolos test adalah soto Iga kaki lima, yang oleh orang sekitar disebut Soto Metromini lantaran bangkunya memang bekas Angkutan Metromini. Namanya Kaki Lima, sebuah peninggalan Thomas Raffles, untuk menyisakan jalur  khusus pejalan kaki yang lebarnya lima kaki atau 1,5m, dan dengan berjalannya usia menjadi Kaki Lima.

Lantas apa bagusnya Selfie di tenda biru separuh, terpal sepotong dan plastik transparan sisanya buat di Selfi.  Penyebabnya adalah si Babang Sop Iga yang dalam foto lumayan ganteng mirip dari Praka dari Batalion Panser  ini.

Sepuluh tahun lalu mereka makan disana (Bogor), lantaran hujan lebat di kota hujan, sampai rumah baru “nyaho” dompetnya tertinggal. Ketika didatangi, dompet ini masih disimpan rapi oleh si babang Iga.  Ia terkesima “kok masih ada ya orang jujur” – Sama seperti saya, warga dari mayoritas 87% lebih pemeluk, masih terkagum ada SPBU tepuk dada “Ukuran PAS” artinya meterannya tidak di “kenthit”. Bahasa Jawa dicepol sebagian.

Babang Sop Metromini Jujur mengenal sahabat ini sebagai Ibu Dompet Ketinggalan.

fb_img_15091531732261682143291.jpg

 

Advertisements