Fakir-Hurup


Sekalipun mendeklarasikan nama saya sebagai Mimbar diseantero pojok. Namun ada beberapa teman baru yang lebih nyaman menyapa dengan “Bambang” – nama tengah saya.

Nama tengah sayapun saya pakai ketika memesan secangkir kopi sambil menunggu seseorang. Petugas menuliskan nama saya di cup putih zonder harus mengulang seperti kalau saya menyebut “Mimbar”  dan tak membaca kernyit wajah bak mengejek  “keknya ente kehabisan nama – ganti Young Lex kek”

Bambang lalu duduk manis menunggu. Agak jauh dari meja pengambilan pesanan. Sementara pengunjung yang tidak sabaran – berkerumun sekeliling konter seakan-akan pesanannya cepat diracik kalau petugasnya dipelototi.

Kedai kopi ramai sekali. Kafe yang dipuji Raditya Dika sebab selalu memilih dinding yang tidak memantulkan suara, tersedia colokan listrik ini malahan menyetel lagu Zaman NOW. Akibatnya telinga dan leher distel siaga penuh. Sesiaga satuan pengaman Alexis yang diancam kalau pengusaha baru dilantik, mereka akan jadi bagian sejarah. Teknik paling sederhana, mengamati pengunjung yang ada dibelakang antrean.

Setelah lama menunggu, datang juga  nama Mimbar eh Bambang, saya menuju counter namun cup yang dari jarak jauh sudah saya “TAG” nampaknya berpindah tangan seorang lelaki perlente separuh baya. Dia bersiap meninggalkan loket ketika saya dekati.

Gelas saya rebut (gentle), meyakinkan  lagi namaku “P’Bambang” tertulis disana. Ia berkelit mencoba mempertahakan.

Bapak namanya Bambang?” tanya saya. Saya lihat rambut keriting ikalnya sudah berwarna dua, artinya tuwir.

MarXXX, tapi saya pesan yang ini..” lantas dia menyebut nama kopi yang memang sama dengan pesananku.  Saya yakin dia tidak fakir-hurup, fakir-pendengaran.

Lelaki itupun tak terlihat di bangku kafe.

 

 

Advertisements