Deklarasi Bubur Sumsum


Rumah sakit bernuansa hijau ini terletak di Kali Malang. Namanya unik, malahan mudah diingat karena Harum dan mengaitkan dengan lagu Ibu Kita Kartini Harum Namanya. Di depan rumah sakit yang merupakan penggalan nama Hasyim dan Rumiyati, nampak proyek jalan layang Kalimalang yang mangkrak dua periode, sudah dilewati truk proyek. Beberapa gardu tol-pun sedang dibangun. Saya berterimakasih kepada pemerintah. Terjawab doa puluhan tahun lalu dari sebagian warga, kapan proyek yang mangrak di masa pak Harto dan presiden sesudahnya ini akan diselesaikan.

Kedatangan kami untuk menengok adik kandung paling kecil. Semalam ibu 4 anak ini sudah mendekam disini dengan perut berisi cairan barium. Ia harus meminumnya agar saat dilakukan USG kelak bagian usus buntunya bisa divonis harus di angkat atau tidak. Bahkan ada wacana, akan rawat rumah saja lantaran “Masih ada keraguan didalamnya..”

Kamar di ruang Arumndalu ternyata kosong. Kata perawat yang bertugas pasien sedang berada di Poli Bedah di lantai dasar.

Sayapun harus turun ke lantai bedah. Namun butuh celingukan mencari lift mana yang turun kesana. Ada satu dari tiga lift diberi tong sampah. Ternyata itu cuma sekedar petunjuk, bahwa ia sedang tidak berfungsi. Jadi ada bahasa simbol Tong Sampah = Under Maintenance.

“Lift turun yang ini pak!” – sebuah suara ramah menyapa kami. Di dalam sudah ada pak SaTPam. Pemilik suara ramah, halus, berjenggot putih ala Ahmad Dahlan ini nampak akrab dengan petugas. Misalnya ia memijit punggung petugas berbaju hitam, ber handi talki.

“Geli DOK dipijit begitu,” serunya. Saya mendapat kesempatan buka suara, agak berbau nekad.

“Harusnya bayar mahal lho dipegang Dokter”.

Tersangka dokter, menoleh dan “nengok siapa?”

“Adik saya dok, katanya usus buntu, katanya akan dioperasi” kata saya belum meneruskan semua sebab ini hanya “lift conversation”- harus efektip, harus membuat kesan terhadap lawan bicara. Apalagi dari lantai dua ke lantai D (dasar).

Kami berpisah, saya munduk-munduk memberikan pertanda hormat. Pria berumur dan berbaju putih “mirip dokter” ini menggumam sesuatu.

“Oh menantunya dokter Ahmad SM?, …” lalu kami mengambil jalan berbeda.

Melewati lorong, spanduk BPJS ada dimana-mana, peringatan untuk membayar sebelum tanggal 10 setiap bulan jelas terpampang. Hanya saya belum melihat anjuran untuk mendownload aplikasi “JKN Mobile”.

Didepan poli bedah, nampak adik saya sedang di kursi roda, memangku putri sulungnya ditemani sang suami. Pemandangan kurang umum untuk penderita USUSBUNTU harus dioperasi, bahkan sebelumnya masih melakukan pekerjaan laundry di rumah.

Baru saja cipika-cipiki, sesosok bayangan masuk Poli Bedah. Ternyata dokter mirip Ahmad Dahlan yang berbicara dengan saya di lift ini adalah spesialis bedah yang akan menangani adik saya. Langsung saya potret papan namanya.

Kelak saya tahu bahwa orang besar di Panembahan Yogya ini, masih alur Abdi Dalem Keraton Yogya, juga pernah direktur Rumah Sakit yang sama dan sering dipanggil poyokan sebagai Ndoro Kasim oleh teman sekuliahnya. Padahal harusnya Hasyim.

Keponakan lucu kami tahan untuk tidak ikut masuk ruang pemeriksaan. Butuh sekotak coklat dan pakde yang berbuih bercerita. Ini memang strategi pengalihan perhatian.

Namanya Athifa,6. Saya minta dia membaca pelang aluminium bertuliskan Jalur Evakuasi dan simbul orang berlari. Saya tunjukkan apa maksudnya – padahal bapaknya adalah Tim Inti urusan manajemen bencana yang pernah memberikan kuliah hal yang sama di Amerika, atas undangan pemerintah setempat dan tidak dipermalukan.

Pelajaran Jalur Evakuasi saya hentikan sebab pintu darurat yang pintu beneran artinya besar lebar, tetap sengaja dikunci rapat-rapat. Satu satunya papan arahan adalah “Dalam keadaan Darurat, Pecahkan Pintu Kaca”. Tapi saya tertegun, kalau memecahkan kaca harus pakai alat, alatnya tidak ada ditempat!. Saya tidak tahu dalam keadaan sebetulnya nanti kaca pecah bukan adegan film.. Ada banyak orang terluka baik yang memecahkan dengan tangan kosong (kalau tangannya kuat), dan sisa tajam pecahan yang menempel pada list pintu. Ketika saya mengecek pintu darurat lain, ternyata palubesi ada disana.

Balik ke Poli..

Ini pemeriksaan “luama banget” – kalau sekadar USG, saya malah curiga yang didapat nanti malah Hamil lagi. Jangan bilang bagaimana pasien lain yang bermuka kecut karena sakit, stress harus duduk berlama, stress mengapa kami didahulukan.

Menurut Ipar saya “setelah keluar poli”, dokter membutuhkan lima kertas folio untuk menjelaskan duduk perkara UsusBuntu, posisi usus dan pernik lainnya. Lantas keunikan spesialis ini ia menulis dengan kertas dihadapkan pasien, dan menorehkan tulisan dari atas sampai kebawah, sehingga mengesankan menulis terbalik. Iapun dokter yang masa kuliahnya dikenal bisa menulis kanan maupun kiri sama baiknya.

“Kamu ini anaknya dokter siapa”

Ini pertanyaan Betmen..

Ipar lalu menyebut nama ayahnya yang orang Lahat Sumsel ini dengan selengkap-lengkapnya.

Tak disangka ia malahan disemprot. “Itu nama Kakekmu bukan nama ayahmu. Mengapa nama kakek disebut-sebut!” – untung saja Ipar saya ini sekalipun kepandaiannya tak diragukan, namun bukan termasuk golongan kalau tidak berdebat dengan lawan tidak kuatir masuk tergolong Bani Bodoh yang merugi. Bolehlah ia aliran nama cukup sampai Ayah. Tapi kalau didebat bisa panjang ceritanya. Salah-salah kalau dokter tersinggung, bisa-bisa operasi ditunda sampai emosinya membaik.

“Sudah bepergian kemana saja?” – ini kan tidak ada hubungan dengan nama Kakek yang diprotesnya. “Myanmar, diajak Mentri Sosial Myanmar menengok fasilitas pengungsi Rakhine.

Wah beruntung kamu sudah kesana. Aku melamar relawan apa kata mereka..”Ditolak, SEMKIK, sudah tuwir katanya, jangan kelayapan ke Myanmar segala..

DEKLARASI BUBUR SUMSUM

Sepertinya konfirm bahwa usus buntu sudah tua, sudah waktunya di pensiunkan supaya penyakit tidak kelayapan kemana-mana. Pasien, alias adik saya langsung diminta puasa selama tiga jam. Selama menunggu datanglah ahli Gizi datang membacakan menu pasca Operasi. Saya sampai senyum sendiri melihat ahli ini mirip pembacaan “Deklarasi Pernyataan Bersama” didepan Awak Media. Hanya kali ini judulnya menjadi “Deklarasi Bubur Sumsum”

Ahli gizi keluar, datang suster membawa cukuran.. Hari itu memang sibuk.

Lantaran belum sarapan, maka perut aseli melilit. Kami tahu tuan rumah akan menjamu – namun suasana ini lain. Maka saat mereka keluar ruangan, Kami keluar ke jalan Kalimalang, dan entah kenapa melihat iklan Sup terkesan melecehkan wanita yaitu Janda. Kepingin coba.

Aku kasih ponten “6” untuk masakan ini. Apalagi ketika pesan Es TEHHHHH tawar pakai batu es, diberi STea dari kulkas dengan rasa tak menawar. Herannya pengunjung lain sampai nampak keringatan dan cungkil-cungkil slilit daging on location (di meja makan).

Lagi menyesali diri kok masuk ke kedai ini. Lha kok ipar kirim pesan “Nasi Bakarnya sudah dibelikan lho? – dan ini rasanya gleggleg” – weleh alamat makan dua kali nih. Sebelum lupa, nasi bakar belakang RS Harum rasanya okay punya (tanda jempol).

Operasi berjalan mulus, suami dari teater operasi melalui pesan WA mengirimkan potongan daging 8cm, mirip potongan ham. Sekaligus menandakan terjadi pembengkakan 2-3cm, bahkan nanah sudah pecah. Pasien sempat grogi mendengar komentar didalam meja operasi “lho-lho, kok sudah pecah begini” – tentu yang bicara team dokter.

“Kok ya keluhannya cuma sakit seperti mau Menstruasi”

Keluhan sakit “M” ini saya malahan tahu dari bisikan Athifa ,6, ke telinga saya dengan pesan “shut your mouth, dont tell anybody Okay”- lalu ia minta pakdenya berjanji tidak cerita kemana-mana. Tapi saat pakde Mimbarnya membuat tanda menutup dengan kedua jari menirukan resliting, dia tidak puas.. Dia baru senyum, ketika saya menggerakkan punggung tangan saya didepan mulut seperti melap mulut cemongan.

Kadang daya tahan seseorang terhadap penyakit – kalau tidak sempat ditangani dokter lebih lanjut bisa berakibat serius. Usus buntu sering tersamarkan, apalagi kalau pasien tergolong tidak mudah mengeluh.

Advertisements