Klonal-21- Mangga dengan “pelok” Ngelotok Kering.


IMG_0179

Pernah lihat makan mangga serasa madu, tapi penampakannya seperti Jambu Puket (alpukat)?” tanya Toko Sebelah berjarak satu kursi panjang dengan kursi tunggal di ruang tamu.

Saya cuma bisa mendehem – “heu heu”.

Ia sudah feeling – pancingannya berhasil. Pak Tua didepannya kadang mata menunduk tapi pasang parabola. Dalam jarak satu depa, foto copy paste sampai ke HP saya (dan kali ini saya tidak gusar dikirim artikel CP (Copy Paste). Padahal saya sering bergurau “korban terbesar dari monster Gadget dan MedSos adalah menjadi Jamaah Militan dan Radikal dalam aliran CP. Nampaknya sekali di “baiat” – susah untuk murtad dari CP.

Tadi, pulang dari acara Senam para Hawa banyak acara ini masih juga perbincangan mangga sama hangatnya dengan polemik Jalur Puncak.

Diam-diam saya melihat viral, seorang anak muda menyikep mangga sebesar Arum Manis, yang sudah diiris sekeliling pinggang. Cara ia memegang seperti Bagawan sakti hendak membuka cupu manik “Astagina” – penuh hormat. Cupu manik Astagina dalam pewayangan seperti Google, bisa ditanya apa saja. Tapi kalau salah aplikasi mereka menjadi kera.

Mangga berkulit hijau ini lantas diputar kekiri atau ke kanan sama saja, bukan peleg ban. Dengan gaya slow motion eh “ceprot” petani ini pisahkan kutub utara – selatan. Dan tadaaa, dibalik selimut hijau lumut – buah juicy berdaging kuning emas nampak menantang. Secara deskriptip pangkal buah agak kekuningan, ujungnya keukeuh hijau lumut. Sekalipun manis-manis madu, tetapi aromanya tergolong lemah alias tidak menyengat.

Biji mangga (pelog) sekarang tak ubahnya rambutan Binjai – ngelotok kering. Tidak perlu pisau, mangga ranum bisa dilahap dengan sendok sekalipun. Kalau Non Pri mau pakai sumpit boleh saja tapi ajak-ajak saya ya.

Media menyebutnya Klonal-21, banyak dijumpai di Pasuruan. Dijual kemana-mana dengan stiker dipunggungnya, artinya kualitasnya sudah Ngadep-adepi bagi pesaingnya. Sudah go Global. Ia sebetulnya cucu embah Gadung yang kesohor-tapi seratnya bikin sikat gigi tak mempan. Di tanah Oro-Oro Rembang Pasuruan, ditangan team kreatip petani kita, dia bisa berubah ngelotok kering. Kendati butuh waktu 21 tahun bagi petani untuk mendapatkan hak paten mereka.

Nah bagi anda yang punya waktu maka Oktober sampai Nopember ini dibuka Wisata Petik Mangga 21 salah satu cara pemda Pasuruan mendatangkan pendapatan daerah.

MANGGA ARUMANIS YANG MENDAPAT PESAING BARU GADUNG-21arumanis

Baca juga mangga kami dilarang petugas dibawa keluar:

Advertisements