Mana yang betul SaTPam atau SaPTam


Friday the 13th..

Mengurus BPJS di Jakarta Barat selalu diusahakan sepagi mungkin agar dapat nomor awal. Namun jangan harap cemas sebab sebelum pukul 08:00 theng, yang ada hanya petugas Janitor dengan satu jawaban “tunggu jam lapan petugasnya datang.”

Maka wajah bingung mencoba bertanya pada rumput yang bergoyang (kalau ada). Bertanya kepada toko sebelah yang sebetulnya tidak kalah bingung.

Biasanya akan ada beberapa karakter dimainkan. Karakter merokok dalam antrean misalnya. Saya mengenal anggota DPR, orang yang duitnya dijemuran belum kering. Iapun bahagia sekali manakala bisa merokok didepan umum, bahagia bisa dilirik dengan pandangan mata gusar orang sekelilingnya.

Seorang bapak berjaket hitam penampakannya sehingga terkesan petugas negara. Saya seperti melihat bapak-bapak Pertamina, Beacukai, atau Imigrasi yang kedinginan di ruang AC. Sambil duduk didepan meja penumpukan berkas ia selalu memberikan “pengarahan” – jebule beliaupun nasabah BPJS kesehatan mandiri. Namun relawan dadakan ini mulai bingung ketika dikerumuni nasabah lain dengan pertanyaan ruwet.

Seseorang datang bergegas menuju meja dengan langkah pasti datang seperti tokoh mendatangi KPK dengan marah luar biasa. Maklum biasa mengeritik orang lain dengan seenak udel, mendadak dapat serangan balik. Didepan meja ia langsung membereskan berkas tebal (miliknya sendiri).  Seorang ibu langsung mendatanginya dan minta bantuan “Pak SaPTam kalau mau urus ini bagaimana” – eh iya perempuan berambut kering pendek ini berkali keblibet menyebut saPTam. Kalau saya gubernur baru, maka ia akan saya kotakkan sebagai warga yang memang berdarah jago bikin perusahaan alias PT sehingga pak SaTPam keblibet menjadi SaPtam. Mudah-mudahan burung Walet akan disebut Lawet.

Karena yang dipanggil SopTam-SaPtam diam saja sibuk menjepreti berkas, saya jadi kuatir bapak teraniaya mental atau tertuduh – saPTam menjadi gusar. Wanita tersebut saya datangi, “enci, badannya memang kekar bapak ini, namun beliau juga warga antrean”. Bapak SAPTAM (bukan salah tulis, cuma latah) – menoleh kepada saya. Ndak jelas apakah beliau tersenyum. atau malahan gusarnya menjadi. Ada nasabah yang bingung mengapa BPJSnya digratiskan.

Bahkan beberapa diantaranya berdatangan ke kantor BPJS karena sebuah berita yang dilansir oleh pihak sontoloyo dan diterima begitu saja oleh sementara warga. Bahasa “kopasan dari WAG sebelah pasti betul, sahih, sudah terverifikasi” – sepertinya belum bisa lepas dari sementara orang.

Duduk atawa berdiri antrean di BPJS kadang seperti melihat rangkuman problematika asuransi yang kebanyakan mereka tidak paham. Saya malahan seperti mendatangi Reuni tapi tak saling kenal kecuali merasa senasib. Cukup keluarkan senyum sambil bertanya “ada masalah apa ya?” – maka sebentar saja mereka akan membombardir dengan masalah yang dihadapi. Dan bagi pensiunan seperti saya – itu sesuatu banget..

 

 

Advertisements