Orionid


Berkali-kali artikel online ini saya baca, bahasa Inggris dan bahasa Pribumi. Ada badai meteor “grand finale” pada 20 Oktober, the best show menjelang Sabtu pagi 21 Oktober 2017.  Hujan berasal dari rasi Orion.

Dimana itu rasi bintang Orion, nggak usah jauh-jauh kuliah Astronomi, download saja aplikasi Skyview, arahkan kamera HP ke langit maka akan muncul image bintang yang dipercaya bangsa Romawi sebagai dewa mereka.

Lantaran banjir meteor datang dari Orion maka mereka menyebutnya Orionid.

Sejatinya meteor ini sisa debu komet Halley.

Saya baca lagi balik dan ulang, hujan (meteor) akan nampak di langit Timur Laut dengan ketinggian sekitar 30 derajat. Maka berbekal teropong (kata ahli ndak perlu), tripod dan kamera dan tak lupa cream oles, mulailah saya lek-lekan menunggu jatuhnya meteor yang sementara sekte agama besar meramalkan sebagai datangnya Apokalips (Kiamat).

Karena malam fakir cahaya, maka padas iang hari, kamera disetel ke INFINITY (jauhnya tak terhingga). Caranya ya saat siang atau kesempatan pertama, kamera di fokuskan ke puncak gunung atau apa saja yang jauuuh, lalu “thek” matikan autofokus. Biar lena tidak kelayapan cari fokus. Supaya kelihatan profesional (tapi tidak), bodi kamera saya bedong plester kertas biar nggak fokus. Mudah-mudahan tidak minta Akwa.

Kalau kamera sampeyan yang “mahal” urusan ini menjadi cemen, tinggak muter ring ke simbol matematika infiniti. Tapi kalau baru akan motret kalau sudah kamera mahal, ya repot.

Kasus saya adalah tetangga sekitar yang rumahnya tinggi besar ganteng, mereka pasang lampu sorot. Jadi pengamatan menjadi polusi cahaya. Tapi bisa diatasi. HP saya arahkan mencari Orion. mendadak bayangan putih, perempuan “non pri” telanjang dada seperti lukisan Ubud jaman 1900-an nampak melayang.

Jangan jauh-jauh mencerca sebagai jin itu memang aplikasi HP yang menunjukkan bahwa kamera anda sedang menuju rasi bintang dengan perempuan setengah telanjang. Mayan.. Kalau anda putar lagi kamera, akan muncul sejenis tikus “Ursa Major”.

Sambil tertelentang sambil mendongak ke langit, beberapa bayangan hitam beterbangan, dengan suara “seperti ketukan”, kalau mudlogger oildfield gaek seperti saya atau orang rig paham betul suara itu biasanya ditimbulkan oleh gaungan alat perekam sonik (Sonic Log) – tetapi yang saya lihat adalah rombongan kelelawar memancarkan suara memandu arah penerbangan mereka.

Jam 03:00, setengah jam lagi ada penampakan, Venus, lantas Mars disamping meteor. Sayang kamera saya sudah basah kuyup oleh embun, tikar, bantal basah semua. Kopi sudah habis. Saya memutuskan “melambaikan tangan.”

Entar malam dicoba lagi..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements