Kalau mainan rusak dinegeri orang


Kalau ada pepatah kuman dipelupuk mata nampak seperti gajah, boleh jadi kata-kata itu ditemukan tukang potret.

Kamera “atu-atu”nya saya yang menemani kemana-mana. Bahkan ke rigpun ia ikut serta. Sudah mulai ngambeg. Musim hujan memang musuh kamera.

Para Pengejar Matahari Terbit, itu tuh yang suka memotret disubuh-subuh, tahu betul bahwa musuh kamera adalah udara pagi. Kamera mengembun, dilap pakai tisue salah kagak dilap juga blunder. Ada serat tisue lengket dan menetap disana, makin parah lagi masuk kedalam body lensa. Hasil foto kenapa ada sidik jari dimana-mana. Jamur nggak salah lagi.

Duh.

Kebetulan saya ada diluar. Lantas browsing di internet, ternyata, selain lama (ingat atu-atunya), harganya bisa nyaris merobek selaput batasan beli baru.

20171019_114427-108751084.jpg
Kamera setelah dibersihkan bagian “dalam” lensa

Maka bermodalkan gemetar, saya mulai mengikuti arahan di media sosial bagaimana cara bongkar kamera yang cuma tiga sekrup kecil.

20171005_1327422127449988.jpg

Dan betul saja, begitu blak sekrup dilepas, tentu lensa perlu digoyang sedikit kekiri, agar lepas dari dudukan. Ya ampiyun, embun sudah begitu jahat sampai jamur betah disana membuat koloni(al) disana sini.

Kalau dibiarkan biasanya mereka mengeluarkan racun untuk merusak lapisan lensa. Tak terbayarkan akibatnya. Ini juga kesalahanku tidak punya kotak penyimpanan lensa kedap air sementara lensa dibawa kemana-mana.

Setelah lensa dibersihkan pakai cairan pembersih dan dilap (ingat sekali lap dua tiga tisue, benang tertinggal), maka keringkan dengan pengering rambut. Sekalian ditiup uap panas, sekalian meniup debu, benang, atau tissue yang tertinggal.

Lensa siap beraksi kembali..

 

 

 

Advertisements