Pengabdi saSETAN


Sambil menunggu panggilan boarding putra bungsu di bandara “The Legend Airport” – Halim, kami memasuki sebuah kedai kopi.

“Ada Es Jeruk” tanya kami kepada mbak petugas pemesan order dengan papan nama “Trainee”

“Tidak ada pak, kami disini minuman panas semua..” – tentu yang menjawab si Mbak Trainee.

Lalu kami buka menunya dan tertera “Es Kedondong” – tanpa banyak cincong, es dipesan dan tak lama keluar satu gelas minuman dengan irisan kedondong yang kotak-kotak, dan kedalam gelas ditambahkan es batu bulat-bulat.

“Lho apa ini kok ada es batunya dan dingin?” 

“Oh kalau es kedondong sudah disiapkan dalam gelas dan disimpan di freezer” itu penjelasannya. Kami harus menerima mentah-mentah bahwa es batu kecil-kecil itu sudah disiapkan dalam gelas dan dimasukkan lemari pendingin.

Anak saya bercerita menonton filem yang lagi ngeHit yaitu “PENGABDI SETAN”. Tidak lama Trainee datang membawakan segelas kopi hitam. Begitu dipegang langsung kita bisa menebak suhunya dibawah 90derajat C.

Satu dua tiga tegukan, rasa asam sangat kentara, aroma gosong karamel yang sangat khas dari bubuk kopi instan tidak bisa dicuri. Mau tak mau saya harus berkomentar dalam hati. Memasuki kedai dengan plesetan nama ala Kopitiam, dengan harga sekelas Starbuck – mustinya saya tidak harus menyumpah “Saya bukan pengabdi saSetan-yang istiqomah”.

KOP SASETAN
KOPI TUBRUK saSETAN

 

Advertisements