Reuni 2016


Putri saya baru pulang dari Reuni SMA merangkap Halal Bihalal. Ia 17 tahun berpisah dengan sekolahnya. Setamat SMA bersikeras ingin sekolah ke luar negeri. Kamipada saat itu sedang dililit finansial, bertepatan dengan krisis moneter, dan sebagai pegawai kantor maka menyekolahkan anak ke Singapura adalah pengalaman menyesakkan dada. Tapi itu bagian hidup dan tanggung jawab orang tua.

Ketika mengantar saya pulang ke tanah air, di Bandara Changi kami berbincang tentang reuninya.

Lalu ia bercerita tentang guru-gurunya. Nama gurunya kami samarkan.

Bu Santi – misalnya. Seorang Guru Tajir. Bagaimana tidak disaat guru lain heboh uang ingin diangkat pegawai tetap (tentunya dapat pensiun dan fasilitas lain) maka ibu Guru Santi bergonta ganti tas tangan keluaran  LV aseli. Masih dengan ciri khasnya – setiap datang mengajar bajunya selalu berbeda. Persis seperti seorang Model.

Bukan gaji guru yang membuatnya berperilaku JetSet – namun suami bu Santi yang pengusaha sukses.. Okay Ghibhah (gunjing) distop disini ya.. Setidaknya itulah ingatan putri saya akan guru perempuan sma-nya

Lalu ada guru lain  – sebut saja pak Jono

Hari itu pak Jono mengajar Sejarah pada jam pertama. Hari Senin pula. Murid-muridnya sebagian belum kumpul nyawanya, maklum baru selesai weekend masih ogah-ogahan mengikuti pelajarannya.

Mendadak pak Jono menunjuk salah satu muridnya yang duduk sendirian. Sebut saja namanya Yanti

“Yanti kawanmu kenapa dari tadi diam saja apa dia sakit..?” kata Guru.

Jelas-jelas duduk sendirian, dikira berdua, berdua dengan Hantu?

“Berdua dengan siapa pak, saya duduk sendirian,” tukas Yanti.

Pak Guru serius.. terbukti kaca mata tebalnya ia turunkan ke hidung.

“Lha itu yang berbaju hijau-hijau seperti Nyi Roror Kidul disebelahmu itu siapa?”

Setelah tolah toleh sana sini, Yanti menjawab “pak ini jaket sekolah..” – Sambil menunjuk jaket seragam Hijau yang ia sampirkan dikursi temannya yang kosong. Dari jauh memang seperti ada seseorang duduk.

“Oh saya kira penampakan, baiklah pelajaran diteruskan..”

Itulah julukan Guru Horor bermula.. mereka tidak berani menyebut Guru Siwer…

Seperti yang diceritakan oleh puteri saya.. sepulangnya dari Reuni. (sebetulnya dia juga bakat mendongeng lho)

Advertisements