Pempek AA’


Dua minggu lalu teman kami menghadiahkan 6 kilogram Pempek langsung dari Palembang dengan merek “C”.

Pempek diterima dalam sedan tersegel baik. Bahkan tepung kanji yang ditaburkan sebagai pemisah antar irisan, nampak masih kering..

Lalu atas usulan kerabat kami diminta mencoba merek lain langsung dari Palembang dengan merek dagang “AA”. Nama disamarkan.

Melalui nomor tilpun yang kami catat, toko AA di Palembang kami hubungi. Agar tidak ada kesalahan maka komunikasi dilakukan via sms. Saya terangkan bahwa kami di Bekasi bukan di Palembang.

Biar mereka tidak bingung dengan siapa berkomunikasi maka setiap sms saya tuliskan nama saya.

SMS pun segera di jawab: ” Bisa pak,jenis pempek yg bs dikirim,telor,adaan,kulit,lenjer kcl,caranya transfer dulu pak br kami kirim pempek nya“- Sengaja saya menyalin isi pesan mereka.

Dapat jawaban seperti di atas keruan saya menyebut jumlah, jenis dan  dan tak lupa meng SMS kan alamat kami. Tak lupa minta nomor Rekening mereka . Saya juga mengajak pindah berkomunikasi dari SMS ke  WA..

Setelah lama menunggu,  kami dapat jawaban dalam SMS lagi.

Ok pak bsk kami kabarin lg berapa total semuanya” –
catatan: bsk=besok, lg=lagi.

Rasanya ingin kumaki, diriku sendiri yang tak suka dapat jawaban menunda pekerjaan, bernada nanti saja, besok saja atau kapan kapan.

Seperti biasa – sayapun sabar menunggu BESOK –

Namun setelah jam besok yang dijanjikan sampai arloji menunjuk 11 siang, belum ada tanda saya dihubungi – maka saya menanyakan kembali.

Kali ini saya di panggil Ibu.. Setelah sebelumnya dipanggil Pak..
Atas nama siapa buk, mau diantar dimana?apa ibu ambil sendiri

Sial bener…ternyata SMS sampai berbuih selama ini cuma dianggap angin lalu untuk mereka lupakan begitu saja. Dari Bekasi akan ambil sendiri pempek ke Palembang?.

Tak salah dong kalau saya ngomel melalui SMS.

Sambil mengomel saya bersiaga kalau-dia balik menceramahi saya misalnya …Puasa jangan marah dong Pak/Buk..

Maka saya punya amunisi muntab..”puasa jangan memambah Buyan alias Bego..”
Namun itu tidak terjadi.. Syukurlah..

Petugas mulai merasakan aroma kegusaran saya. Apalagi saya mulai membawa nama seorang pelanggan yang Jendral bintang satu setengah, maksud saya suaminya Bintang satu, maka istrinya bintang satu setengah.

Ibu tlpn kenmr ini aja, lngsng bicara sama bos nya“- satu persatu pegawai mulai lempar tanggung jawab.

Sejatinya saya sudah gagal selera. Namun bosswoman tidak demikian. Ia malahan sabar menilpun ke Palembang lalu menjelaskan secara panjang lebar bahwa pesan pempek kenapa.

Pihak sana beralasan outnumber crew, overload pesanan dan menyangka kami Jendral beneran.

Kami dijanjikan dua hari pengiriman ONS benda enam kilogram. Sudah barang tentu Ongkir dan harga makanan sama-sama seimbang.

“Pakai Mandiri saja transfernya..” kata si AA. Jreng, transfer dilakukan. Lalu kami diberi nomor resi pengiriman.

Kemarin siang paket melalui JNE datang.. Sayangnya tidak seperti yag diharapkan.
Bungkus luar basah dan sudah robek..Tepung yang biasanya melumuri makanan sudah entah kemana.

Karena kecewa.. Bosswoman mengirimkan foto saat paket kami terima. Ia berpendapat tak seorangpun ingin merusak reputasi usahanya. Persoalan adalah boleh jadi pegawai yang dari awal menjawab semaunya..boleh jadi mengepak barang asal asalan.  Dan si AA’ juga mengakui bahwa bulan ini saja sudah ada 4 kasus dos bolong di pulau berbeda.

Rupanya terjadi kesalahan prosedur. Dan mereka berjanji akan mengganti pempek dengan bungkus yang lebih baik serta bebas beaya apapun.

Hari ini reputasi saya sebagai si pengalah.. si sabar rusak sudah kalah dengan bosswoman.

Advertisements