Sate Matematika


Masih sepuluh jam lagi beduk magrib tiba. Tetapi saya sudah nyepedah menuju rumah sate Madura langganan untuk diambil besok (Rabu) sore. Di saku saya tuliskan jumlah order, jam akan diambil dan nomor tilpun rumah.

Ketika saya tiba disana – Tukang sate ini sedang berjongkok didepan dua karung plastik berisikan Batok Kelapa. Di depan pintu rumah yang sepertinya hanya disinari matahari pagi beberapa perempuan muda sedang mengiris dan menusuk sate.

Melihat seseorang mendatanginya – Lelaki berkaos putih bercelana panjang ini menghentikan pekerjaannya dan berbalik menatap.

“Ada keperluan apa?”

“Pesan sate pak ”

Lalu saya memerincikan keinginan saya.. Supaya jangan lupa saya serahkan secarik kertas kecil.. termasuk instruksi bumbu dipisah dari satenya. Seperti belum cukup saya masih   nyinyir mengulang instruksi bahwa barang akan diambil  Besok Rabu Sore… (sekarang Selasa Pagi).

Ia mengangguk .. mulutnya menggumam “jadi sate akan diambil malam ini jam 23 ya?”

Astaganaga.. Baru sepuluh detik keadaan sudah kacau…Maksud saya sih biar jelas saya tulis sate akan diambil jam 3 sore hari Rabu tanggal 23.. Singkatnya sate akan diambil besok Rabu sore.. bukan ini hari.. Kok Mr Prengky bisa baca secara bulak dibalik siy…

Problem timeline sepertinya selesai…

Saya hanya pesan 50 tusuk sate untuk diambil BESOK SORE.(nggak bosan diulang). Dan yang paling penting… berapa harganya. Maklum harga daging meningkat akhir-akhir ini.

Ia menyebut angka 2x lipat dari harga semestinya

“kok mahal sekali..”

Sebelum kekagetan sirna, lelaki Madura ini menambahkan :”itu kalau bapak pesan Seratus Tusuk.. Kalau pesen separuhnya ya tinggal dibagi..” – katanya enteng.. (pikiran saya jadi inget filem di TV semalam ketika Hobbit Bilbo harus bermain tebak-tebakan agar tidak dimakan oleh Smeagol..yang selalu terbalik menyebut Saya dengan Kamu”

Sayapun membayar – jumlah sesuai dengan Main Tebak-tebakan Matematika bang Prengki.

Lantaran pria 30an ini minta uang pas, maka seluruh isi dompet saya kerahkan ..

Selembar dua lembar tiga lembar…dan seterusnya uang parkir mobil melorot dari kantungnya.

“Coba hitung dulu Pak Prengky, uangnya..”

Ia hanya menumpuk uang kucel ditangannya lalu menjembrengnya.

“Ini kurang sepuluh ribu pak!”

Kekurangan ini segera saya lunasi dan saya bilang lunas ya pak Lunas.. Jangan harap dia mengeluarkan nota tanda terima.

Ketika ditanya nomor HP, ia berjalan dari sisi rumah  ke halaman depan tempat Gerobak Dagangnya. Saya hanya cukup memutar badan. Sebuah laci dibukanya.

Tadinya saya mengira dia mengeluarkan kartu nama, atau minimal kertas HVS dicetak kartu namanya. Ternyata kecele sebab benda tersebut adalah  lipatan  plastik ukuran 1 x 1,5m – Sebuah spanduk – Sate Ayam dan Kambing pak Prengky (Franky).

Dimana nomor HP-nya ? pak Prengky..

Ia menunjuk salah satu bagian di gerobaknya.. Tulisan berspidol hitam dengan garis bergelombang seperti hasil dari otot tangan kaku  karena terbiasa bekerja keras.

Sederet nomor tertera dan diberi tambahan SATE KODAU..

“Aktip kan pak HP-nya..” tanya saya nyinyir..

“Ya aktip pak masak tidak tau…”
Yang pak Prengky tidak tahu selama ini saya suruhan asisten. Baru kali ini turun tangan sendiri.

Sepuluh tahun sudah mengenalnya. Selalu tepat waktu.. Anda boleh pesan untuk diambil jam tiga pagi – akan dilayani olehnya.  Satu kesalahan kecil memang pernah terjadi dalam kurun waktu itu. Kami seperti biasa pesan sate dengan bumbu terpisah.. Hasilnya Sate dengan deplokan kacang tanah yang yang terpisah dari unsur gula, garam, merica  alias hambar.

Tapi sejak ini hari sepertinya saya akan menyebut Sate Matematika  ala Madura.. Dan tetap menjadi pelanggan setianya.

Advertisements