Mesjid Nur Ibadah – jalan Kodau-Bekasi


NO ZAKAT!

Sekitar beberapa tahun lampau – saya mengajak seorang teman untuk salat Jumat disana.

Mesjidnya kurang PANAS, saya tidak suka…” – katanya menolak.

Saya hargai keputusannya beribadah dibarengi kotbah yang membakar. Sebaliknya saya malah suka ke mesjid ini. Pulang dari mesjid ya memang tidak spaning..

Itu cerita sepuluh tahun lalu..

Sejak itu saya  sendirian saja mendatangi mesjid yang jarak tempuhnya hanya lima menit ini.

Siang ini 17/7/16 – saya sudah duduk sampai kram dengkul saya. Untunglah tidak lama kemudian – mikropon mesjid ditepuk prtanda pengumuman akan dibacakan mendahului agenda salat.

Pengumuman berkisar keuangan mesjid manteng diangka 130 juta (dan ini sudah bertahun-tahun), bayar listrik 350 ribu untuk dua bulan, lalu beli lampu cadangan 450 ribu.

Usai pembacaan masalah keuangan, lalu diteruskan ajakan baca Al Fatihah – untuk atensi-atensi tertentu.. Ada lima kali Surah tersebut kami baca bersama.

Pengurus melirik jam dinding dibelakangnya.

Nampaknya masih ada ruang sebanyak lima menit sebelum Azan tanda waktu salat tiba.

Maka pengurus mengumumkan bahwa:

Mesjid Nur Iman tidak menerima Zakat Fitrah.” – beberapa kali kebijaksanaan ini diucapkan. Pesan mereka “anda lebih tahu mana orang yang membutuhkan bantuan..”

“Jadi sekali lagi bapak-bapak (ibu-ibu tidak), kami tidak akan mendatangi rumah anda untuk minta Zakat dan tidak menerima anda datang ke mari untuk urusan itu (zakat)..”

Lalu soal Lebaran – mesjid menyerahkan lebaran kepada Pemerintah..

Biar pemerintah yang menghitung dan menetapkannya setelah Isbat nanti, kita mengikut saja..

Mesjid Nur Iman – tidak memakai Khatib untuk berkhotbah dalam bahasa Indonesia. Alasannya – khatib kadang menyelipkan unsur politik kedalam ceramahnya.

Biarlah mesjid ini seperti tujuan utama orang beribadah…” – demikian pengurus menutup kata sambutannya.

ACC Ustadz..

 

 

Advertisements