Pengumuman Mesjid


Kerap kali saya mendengar – pengumuman yang disampaikan melalui pengeras suara mesjid. Apalagi berkenaan dengan warga yang meninggal dunia. Kadang tengah malam, sering pula tengah siang.
 
Dibela-bela keluar kamar, buka jendela untuk mendengarkan terutama nama dan bin atau bintinya yang meninggal. Kuping sampai saya jewer – dan diputar-putar biar bisa dapat signal jelas.
 
Pasalnya hampir selalu ditengah kalimat terjadi “roaming” dan isi pengumuman menjadi kabur…
 
Saya bukan Choky Sihotang – yang menyarankan agar jangan sekali-kali mengetuk atau meniup mikropon sebelum bicara kecuali memang mau menyiksa telinga pendengar.
 
Speaker mesjid biasanya rawan gema. Apalagi kalau sang pembicara – berbicara dengan gaya orang Jakarta pulang kantor – baru sampai rumah setelah tiga jam dijepit macet lalu lintas dan lupa bawa botol kosong 1500 cc yang mulutnya sudah diperlebar-in..
 
Maka yang terdengar hanyalah kalimat awal .. misalnya Assalamualaikum ……Disusul dengan Innalilahi…….
 
Notasi antara Assalamualikum dan Innaliliahi rojiun dibaca dalam satu napas. Kalau Kontes Dangdut sih jurinya bakalan bilang “cengkoknya ndangdutnya mantap..” – tetapi dengan mikropon TOA mesjid anda seperti mendengarkan teriakan saling memantul di Goa Kiskendo.
 
Ujuk-ujuk suara kembali jelas ketika Wassalamualaikum….Klotak (suara Mikrophon dimatikan).
 
“iki omong opo to yo..”
 
Memang ada baiknya pengumuman diulangi, bicaranya pelan satu persatu agar lebih jelas makna dan maksudnya. Bukankah maksud pengumuman adalah menyampaikan sesuatu informasi.
 
Mei 2016

 

Advertisements