Hitam Tua


Mbak Nani sekali tempo kepingin mencoba mewarnai rambutnya yang sebagian ditumbuhi uban putih.. Maklum saja usianya sudah kepala lima. Kelar keramas ia sudah siap memudakan rambutnya.

Sebuah mangkok hitam, sisir hitam nampak dimejanya. Setelah mencampur kedua tube “odol” pewarna dan mengaduk-aduknya. SESUAI DENGAN ETIKET pada sampul luar yang  ia baca.. ca13319947_10208073583370402_3906610281584538241_nmpurkan kedua “odol” dengan jumlah sama banyak lalu diaduk sampai merata.

Sebentar saja ia melihat adonan hitam pekat. Tapi ia masih belum puas, adukanpun ia aduk terus menerus.

Sambil mengaduk – ia mengenakan BEP berupa handuk untuk pelindung tubuhnya.

“PLEK..PLEK..”

Tak lama seluruh kepala wanita berambut sebahu ini  ditutupi mirip agar-agar sepekat dan sehitam aspal jalan. Ia melakukannya sendiri dibantu dengan sebuah cermin. Maklum selama ini ia selalu mengecatkan  rambut orang lain.

Asisten kamipun bahagia dengan penampilan barunya. Rambut putih menjadi hitam pekat, tebal kembali.

Sayang itu tidak berlangsung lama. Dalam hitungan jam – cat rambut mulai kehilangan daya sihirnya. Dan celaka dua belas  mending kalau balik menjadi uban – ini malahan  kecoklatan seperti Reza Artamevia sebelum menyeberang ke Padepokan Brajamusti.

Ini yang membuatnya kelabakan… dan berusaha mengembalikan ke uban aselinya

“dicuci pakai air hangat juga nggak menolong”.

Kalau biasanya beli satu dapat satu, mbak Nani beli satu dapat dua yakni warna hitam dan coklat pirang.

 

 

Advertisements