Dari “Gumoh” terbitlah Kopi Bisang van Luwu


13238883_10208044209476073_93257873643657124_n

Habis Gumoh Terbitlah Kopi Bisang

Ketika saya bertandang ke rumahnya, korban Her masih dalam keadaan shok akibat “siang bolong” rumahnya disatroni maling berkendaraan Mobilio. Sayapun bertandang ke TKP – sebagai tanda empati. Dan mengambil hikmah serta pelajaran dari peristiwa nahas tersebut.

Setelah bicara ngalor-ngidul, Her rupanya menyadari bahwa saya pengopi kelas bantam senior- sehingga tak segan menawarkan sebungkus kopi bisang yang bergambar luwak dari Luwu- Sulawesi Selatan.

“Ini promosi Pak, Bupati Luwuk atau Kepala Daerah Sulawesi Selatan bila pada berkumpul di Jakarta – mereka saling mempromosikan kekayaan daerahnya masing-masing.”

Bahkan Bupati Luwu sampai mengeluarkan peraturan daerah Sulawesi Selatan – “tidak boleh menikah sebelum menanam tiga ratus pohon kopi..”

Bisang sendiri adalah sejenis musang mendekati beruang -menjelang kuskus yang konon hanya bisa ditemukan di kaki Gunung Latimojong Sulawesi Selatan.

Biji kopi yang matang difermentasi oleh air liurnya (jadi bukan dalam perut musang seperti kopi Luwak). Sebelum dimuntahkan kembali dalam bentuk gumoh.

Bisang sangat selektip dalam memilih biji kopi.. Ia akan menolak kopi yang terkena pestisida. Secara alami ia sudah mensortir hanya biji kopi yang sehat.

Jadi inilah keistimewaan kopi Bisang. Kalau dianalogikan durian adalah Kopi Jatohan. Entah jatuh oleh musang, atau hewan lainnya.

Beruntung saya bisa mencicipi – Kopi Arabica kelas Wahid..

Sruput..Ahhhh..

Mei 2016

 

 

Advertisements