Dengan tidak mengurangi rasa hormat


Kerabat yang bekerja di Singapura baru-baru ini mendapat pasangan hidup seorang lelaki mapan. Saya sempat menyaksikan detik  mereka melakukan “pdkt”.. adu lempar pandangan berarti sampai pembacaan deklarasi “kami jadian..”

Pihak keluarga menghendaki perayaan dilakukan semeriah mungkin  di Jakarta. Apalagi keduanya berasal dari Jakarta.

Persiapan demi persiapan dilakukan – ketika melihat kost perhelatan ini  reken-punya reken ternyata “biaya” hidangan per porsi mencapai angka sekitar 2 juta rupiah per kepala.

Ini hanya obrolan biasa – antar kerabat. Dan memang kenyataannya banyak kerabat hanya datang pada saat janji nikah diikrarkan  untuk  mengucapkan selamat , foto bersama dan “mohon ijin” tidak datang  ke resepsi makan malam yang diselenggarakan di  sebuah Hotel di tempat yang berbeda.

Saya pun hadir pada saat upacara “pemberkatan” dan tidak pada Gala Dinner.

Lain Singapur lain pula kota AADC2.

Kebetulan saya satu-satunya orang  yang dapat “hardcopy” undangan melalui paket. Pesan Shohibul Hajat agar berita disampaikan ke keluarga di Jakarta.. Biar cepat – undangan saya scan dan dikirim melalui pesan WA.

Tetapi ada sedikit yang aneh. Undangan ini diberi stiker. Semula saya pikir ada salah cetak.. Ternyata semacam peringatan.

“Dengan segala rasa hormat, kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun kecuali doa…” – kali ini si penerima pesan yang bingung sebab tidak “sari-sari”nya nikah menolak kado atau angpau..

Kerabat yang saya sebut pertama kali adalah “orang kaya beneran” – bukan kayaknya orang kaya. Sementara keluarga yang saya sebut belakangan – datang dari keluarga sederhana.

Tapi itulah yang terjadi.. Lain Padang Lain Belalang..

Monic Indrisari Johan 2

 

 

Advertisements