PUNTHUK SETUMBU


13177904_10207957479867887_2362984635748493134_n13174024_10207957480387900_6681921377864335437_n13177904_10207957480107893_8744539092331007520_n
Nggak sari-sarinya (bukan kebiasaan), Nyonya Rumah mengajak saya menonton filem AADC-2 – mungkin saja ia kepingin mengingat kisah saat remaja Yogya.
Menonton filem adalah acara setahun sekali atau dua tahun sekali. Jadi peristiwa langka. Dua Lansia menonton AADC2 juga rada-rada langka. Saya yang dasarnya suka menonton apa saja dari Uttaran, Anandhi sampai Warkop maka saya girang sumirang.
Bahkan siap sedia menjadi supirnya dengan syarat “ada hadiahnya” – seperti Rangga yang berjanji memberikan Hadiah kepada Cinta sebagai tanda mereka “berdamai”
Soal filem itu sendiri – apakah Yogya disorot secara vulgar-brutal macam filem dokumenter. Untunglah tidak. Misalnya tidak ada Tugu Yogya dipantengin kamera seperti di Uttaran. Mula-mula Thakur, Tapasya, lalu Itcha, kemudianTetsin Gundela dan balik ke Thakur lagi.
Makanan Gudeg, Sate Klathak disajikan dalam bentuk makanan zonder lokasinya. Alun-alun hanya diambil nyaris tak terlihat. Tentu – ada beberapa lokasi kami sangat paham atau dipaham-pahamin seperti pasar BringHarjo dengan mbok Penjual Bacem ISO (jeroan Sapi direbus dengan gula jawa), Penjual Jamu, Peninggalan Kraton Boko, Pantai ParangTritis.
Kalaupun ada adegan yang bikin saya seperti orang asing Yogya adalah ketika Rangga mengajak Cinta menaiki Bukit Punthuk Setumbu – konon lokasi bukit ini dekat dengan Candi Borobudur. Di bukit ini ada bangunan “Gereja Ayam” dan aselinya itu adalah bangunan untuk berdoa bagi siapa saja sambil memandangi sunrise..
Namun bangunan ini mangkrak – dan bentuk unggas membuat penduduk setempat menyebutnya “Gereja” Ayam – tapi bukan.
Adalah Daniel yang pernah mendapatkan semacam “visi” untuk membangun panggung menyaksikan matahari terbit disela puncak Borobudur pada 1990.
KLINIK KOPI Satu lagi yang bikin saya NGECEZZ – adalah penjual Kopi Klinik.. ini luar biasa sekali…Bagaimana orang menyajikan kopi dengan “passion” – dengan semangat dan kecintaan… Klinik Kopi Jalan Kaliurang KM 7,5km.
“MBECAK MAS”
Ini juga ciri khas kalau kita keluar Hotel- selalu ada ada pengemudi becak menawarkan jasanya.
“NGEBUT BENJUT” Bahasa Khas Yogya mengingatkan agar pengendara motor dalam gang yang sempit tidak ngebut..
HP Nyala
Saat filem berjalan duduk disebelah kami para anak-anak gadis tanggung sibuk dengan HP-nya bahkan menyelesaikan gamenya ketimbang menikmati jalannya cerita. Jadi dikegelapan beskop – penampakan cahaya dari beberapa HP memang siksaan tak tertahankan..
Saya berdoa dalam diam…Ya Tuhan, sadarkan anak remaja gadis yang kalau bercanda dengan temannya dalam bioskop selama pertunjukan, agar rambutnya tidak menyentuh bahu dan kepala saya. Saya tidak keberatan dibelai rambut anak perawan, tetapi itu menunjukkan intensitas mereka bergurau dalam beskop sudah sampai memutar tubuh. Ditambah lagi gemrisik suara kertas terdengar ketika tangan mereka merogoh bungkusan gorengan.
Ketika ada acara penghormatan di depan abu jenazah teman Cinta..para gadis tanggung ini malahan meringkik macam ada adegan warkop lempar-lemparan kue tart.
Ada sih saatnya – cewek tanggung ini nyambung dengan adegan filem adalah ketika romans – dimana Rangga dan Cinta saling kecup penuh rindu karena 9 tahun tak jumpa.
Penonton sebelah saya ber-empat seperti membentuk “koor” – Awgh. Sesaat HP ditelungkupkan sampai adegan kecupan mesra berakhir. Sebab setelah itu ya main hp lagi..
Nah pulangnya sesuai dengan janji Nyonya Rumah – “kelar nonton beskop, terus jajan..yuk” – maka keluar dari Beskop – kami mampir di warung Hajah Dahlia- RM Betawi.
Untuk seporsi Sate Kambing Tusuk Bambu (Klathak AADC2- satenya tusuk Jari-jari Sepeda), Sup Buntut dan Peyek Udang. Kalau sudah begini sia-sia makan Havermut selama di rumah – karena Nyonya cuma makan nasi setengah piring.. SIsanya saya yang melahap.
Sejenak kami melupakan Sate Klatahak, Kopi Klinik di AADC2..
Mei 2016
Advertisements