“DOKOH” di RM Padang KW


Siang itu kami memasuki sebuah rumah makan Padang yang mangkal di depan pasar Grogol- Jakarta Barat. Saya menyebut rumah makan padang ini sebagai “KW” namun soal rasa boleh dipertandingkan.

Di rumah makan ini semua istilah berubah menjadi “kejawen” seperti Gule (bukan Gulai)  Kikil dan nambah nasi menjadi “seKulipun setunggal malih.”

Sebentar saja piringh demi piring sudah berpindah ke perut kami. Awalnya saya makan dengan pelan – namun tak terasa  Satu piring nasi sudah amblas.

Kalau sudah demikian saya  berada disimpang ragu  “nambah atau nambah lagi..” – dan selalu berakhir “tambah sepiring nasi lagi..”

ADA KETIDAK BERESAN DALAM MASAKAN

Setelah nasi kedua. Glek saya berhenti menyuap..setelah sadar  ada “ketidak beresan” dalam masakan favorit saya..

“Gulai Hati dan Jantung ayam ” tidak nampak dalam deretan masakan.

Harap maklum – masakan ini biasanya  disembunyikan, hanya disuguhkan kalau kita minta.

Saat pelayan mengasongkan masakan Hatio dan Jantung berbalut usus itu – saya dengar mas pelayan berbaju batik – senyum senyum usil ….

“Wah dokoh maemme…” – bahasa terjemahannya makannya kRakus kRakus…

DOKOH=makan lahap

Mimbar Bambang Saputro
Mei 201613103314_10207894489533168_9038158711002742887_n

Advertisements