Hampir Semalam di Dago


Masih Hampir Semalam di Dago

Setelah memotret Memotret Dago di pagi dan di malam, kami segera meluncur untuik menemui kerabat dekat di kawasan Cigadung yang masih satu-luncuran juga dengan tempat menginap.
Setelah menilpun pihak “sana” dan diberi signal “86” sembari dapat pesan “pintu pagar sudah dibuka”..

Tidak banyak yang dilihat disini selain permukiman padat. Kecuali satu yang rada spesial komplek sekitar kediaman pak Ridwan Kamil. Tetapi “hardisk” saya hanya merekam Plang Nama Praktek Dokter .

Ketika Tour Guide dengan anaknya yang kebetulan cucu saya menunjukkan komplek kediaman pak Walikota Bandung yang mereka sayangi (dan saya juga kagum). Hardisk saya buka selebar mungkin agar bisa menangkap bahan buat menulis. Salah satunya adalah:

Melihat “Air Terjun” di komplek kediaman pak Ridwan Kamil..

Ditengah hujan lebat membasahi Bukit “Pakar” Dago, kendaraan harus berjalan lambat mengingat jalan yang cuma ngepas untuk dua mobil, berliku cukup tajam, namun gelap akibat malam dan hujan lebat disertai sedikit kabut..

Saat itulah nampak pemandangan berupa air terjun yang tinggi dan panjang disisi jalan..

Saya membayangkan mirip kisah Nabi Musa membelah lautan. Sambil mikir bagaimana kereta bisa lewat didasar laut yang mestinya sangat berpasir tebal tetapi benyek lumpur. Lalu hayalan hardisk berubah lagi bagaimana kalau lereng ini mendadak longsor mengingat sedang musim tanah bergolak.

Tapi kekaguman cepat sirna setelah diamati “air terjun” ternyata memang air banjir yang meluap dari bagian sisi tebing – saking guedenya banjir sampai bisa menipu mata seperti air terjun (hayalan hasil hardisk saya yang penuh).

Pantesan warnanya kecoklatan..

Advertisements