Kenapa Gado Pedas Karetnya harus dobel


Ini alasan Kenapa Gado-gado yang pedas minta ampun – karetnya dobel…

Si Alay ini sebetulnya memasang pelang gerobak sebagai Gado-gado Kuningan Bang EWO, tetapi penam13095934_10207844989455697_4317910328336016721_npilan kekiniannya yang Alay lebih “passion” ketimbang simbol ke-Kuningannya..

Sudah beberapa minggu gerobak yang mangkal di seberang Taman Ambharapura nampak sepi alias tidak berjualan. Sayapun sudah mencari alternatip penjual gado-gado seorang emak-emak di belakang Kantor Pos. Sekalipun rasanya seperti membandingkan DHL dengan Pos kita.

Ceritanya saat “ngePiet” alias naik sepeda – menjalankan pesanan ibunya Lia dan Satrio – mencari yang “sesuatu banget” saya melewati posko gerobagnya.

Ternyata wajah dan busana khasnya nampak berada di balik  kaca display sayuran dan tahu. Agenda  pit-pitan langsung saya modifikasikan dengan cara membelokkan kereta-angin ke  Markas Gado-gado. Dia masih sibuk melayani pesanan..Wajahnya terlihat pucat..

Ketika giliran pesanan saya tiba -Alay langsung saya “donder” dengan interogasi.

“Lama kagak dagang.  Masalahnya lagi segen atau pulang kampung?”

Saya tidak mengada-ada akan uji materi dua pertanyaan tadi. Pertama dia pernah mangkir sebab sepagian hujan turun terus sehingga urung berjualan.

Jawaban ke dua adalah dari teman mangkalnya yang mengatakan “mungkin pulang kampung”

Mana yang betul…

Saya sakit Pak… kalau pulang kampung saya akan kasih tahu teman-teman “dimari”, tapi kalau sakit kan datangnya mendadak dan berhari-hari.. Seperti filem sinetron yang kadang melupakan logika – pikiran akan “kan elu sepertinya “ngemut” alias menelan speaker handphone setiap ada kesempatan – ditepiskan jauh-jauh. Yang terucap adalah:

“Ok..Ok.. bungkus dua plus kupat plus pare plus tempe. Dengan catatan  bungkus kesatu yang  pedas-das, yang satu lagi  pedas tetapi sayup-sayup sampai di lidah.”

Berapa menit kemudian dua bungkus gado-gado sudah siap..

“Pak, yang pedas karetnya dua, yang tidak (pedas) karetnya satu..” kata si Alay..

“Bang biar hemat, yang pedas karetnya satu yang nggak pedas jangan pakai karet ajah..” – terbayang saya bangga bisa menghemat satu karet gelang..

“Tapi bapak mau bawa pulang bagaimana kalau tidak dikaretin, bisa ampar-amparan kemana-mana..”

Eh si alay ternyata lebih pandai daripada saya. Teknologi “biting” sudah lama ditinggalkan diganti karet gelang atau staples..

Sesampainya dirumah, gado-gado saya sikat ludes. Tetapi terdengar komplin – kenapa parenya nggak ada ya? – dan saya malahan tidak tahu apakah benda pahit tersebut ada atau tidak dalam piring.

@mimbar
April 2016

 

Advertisements