Arjuna Dapur


image

Suara riuh ibu ibu mengelilingi Arjuna – yang tak henti mengepulkan asap kretek label kuning ditingkahi suara lima ekor kucing berebut isi perut ikan hasil bethetannya membuat saya mendekatinya..
Dimana mana penjual sayur keliling selalu penyamun disarang wanita..
Tapi apa sebab orang suka belanja sayur ngampung ketimbang pasar tradisional…
Seorang mbak menyerahkan ikan bandeng yang langsung disiangi di tempat sambil dipotong tiga bagian.. Isi perut buat jatah kucing liar..
Mbak yang lain minta nangka muda dibersihkan sambil dibuang hatinya..
Pelanggan lain sampai tempepun minta diiriskan..
Mereka para asisten rumah tangga yang selama ini diperintah kali ini punya kuasa kasih perintah.. Mungkin itu daya tariknya..
Bonus lain Si Gendut kadang cari celah bercanda nggeblek lengan kadang nowel dikit bokong pelanggannya..Semua seperti normal..buktinya mbak cuma teriak manja tapi tidak protes..
Sial bener..

Advertisements

Sliding Lift


image20160430_054632.jpg

Kamar 518 dilihat dari nomornya ada di Lantai Lima..
Tetapi lift hanya sampai ke lantai Empat (4). Namun lantai 4 tidak eksis. Yang ada adalah lantai 3A.. Dan lift teratas dimulai dari nomor 1 dan nomor selanjutnya adalah kebawah..

Maka ketika anda menekan tombol 3A yang terjadi lift turun (tidak naik) ke lereng perbukitan secara miring (sliding).. Saya yang baru pertama kali mengalami ya cuma ck ck..

Sliding lift dirancang agar tamu disuguhi panorama lembah Dago Bandung dari ketinggian..

Menurut seorang warga Dago, kalau saja kami datang lebih awal konon kabut  Sutra Dago yang tebal seperti makanan “rambut nenek ” bisa menimbulkan efek lebih dramatis lagi.

@mimbar
April 2016

Malak untuk beli Sinar Matahari


Energi dan praktek premanisme
Praktek premanisme di rig-rig Pengeboran kita umumnya sudah berazaskan dari Sabang sampai Merauke. Jamannya pengeboran sedang ramai-ramainya, kamipun bahkan mempraktekkan Bhineka Tunggal Ika, alias ada crew Jawa, Batak, India, Bangla, Nepal dan lain-lainnya. Nggak sampai Seratus Lima Puluh Juta sih jumlahnya.
Di salah satu proyek pengeboran di Riau para awak mudlogging lumayan kebingungan ketika entah bagaimana preman Desa bisa masuk kedalam kabin. Kabin ialah kontainer yang disulap menjadi office sekaligus laboratorium lapangan. Mudlogging ialah orang (saya) yang pekerjaannya mendulang atau menyosoh remukan sebagai sisa operasi pengeboran.
Tujuannya apa lagi kalau bukan memalak uang keamanan. Bahasa mereka “uang bensin”..
Separuh mabuk preman bicara ke kapten kabin ,BEN, yang warga India yang sedang bertugas saat itu..

“Sir…me…me.. ” (lalu menggosokkan jempol dengan telunjuknya)… “buy … Solar..ya..Solar..”

 

Si India pasti bingung – hanya di Indonesia Matahari dijual belikan dalam bentuk cairan dingin…
(Solar=Energi Matahari)
@mimbar
April2016

Gudeg Bu Erni


gudeggudegGudeg Bu Erni Mimbar.. Perlu menginap semalam sebelum ditambahkan material lainnya seperti Tahu, Ayam dsb..

Waktu proses masak, ada tamu spesial komplin – bau gurih daun salam bisa tercium dari jarak 25 meter… Dahsyat..

Ini adalah masakan yang pernah dibuat dua tahun lalu.. Kami sudah prei masak gudek sejak 2014..

Hari pertama – juru masak menyiapkan Nangka Muda dan Telur

Hari kedua – menyiapkan Tahu Kulit.

Hari ke tiga – eksekusi – pembuatan sambal krecek dan kacang tholo.. Ini penyedap rasa seuatu masakan Gudeg.

Saya hanya bagian icip-icip saja… Jadi kalau kemanisan, keasinan, keGurihan..salahkan saya sang Pencicip..

IMG_0002 (1)IMG_0007IMG_0002 (2)IMG_0009

 

Kenapa Gado Pedas Karetnya harus dobel


Ini alasan Kenapa Gado-gado yang pedas minta ampun – karetnya dobel…

Si Alay ini sebetulnya memasang pelang gerobak sebagai Gado-gado Kuningan Bang EWO, tetapi penam13095934_10207844989455697_4317910328336016721_npilan kekiniannya yang Alay lebih “passion” ketimbang simbol ke-Kuningannya..

Sudah beberapa minggu gerobak yang mangkal di seberang Taman Ambharapura nampak sepi alias tidak berjualan. Sayapun sudah mencari alternatip penjual gado-gado seorang emak-emak di belakang Kantor Pos. Sekalipun rasanya seperti membandingkan DHL dengan Pos kita.

Ceritanya saat “ngePiet” alias naik sepeda – menjalankan pesanan ibunya Lia dan Satrio – mencari yang “sesuatu banget” saya melewati posko gerobagnya.

Ternyata wajah dan busana khasnya nampak berada di balik  kaca display sayuran dan tahu. Agenda  pit-pitan langsung saya modifikasikan dengan cara membelokkan kereta-angin ke  Markas Gado-gado. Dia masih sibuk melayani pesanan..Wajahnya terlihat pucat..

Ketika giliran pesanan saya tiba -Alay langsung saya “donder” dengan interogasi.

“Lama kagak dagang.  Masalahnya lagi segen atau pulang kampung?”

Saya tidak mengada-ada akan uji materi dua pertanyaan tadi. Pertama dia pernah mangkir sebab sepagian hujan turun terus sehingga urung berjualan.

Jawaban ke dua adalah dari teman mangkalnya yang mengatakan “mungkin pulang kampung”

Mana yang betul…

Saya sakit Pak… kalau pulang kampung saya akan kasih tahu teman-teman “dimari”, tapi kalau sakit kan datangnya mendadak dan berhari-hari.. Seperti filem sinetron yang kadang melupakan logika – pikiran akan “kan elu sepertinya “ngemut” alias menelan speaker handphone setiap ada kesempatan – ditepiskan jauh-jauh. Yang terucap adalah:

“Ok..Ok.. bungkus dua plus kupat plus pare plus tempe. Dengan catatan  bungkus kesatu yang  pedas-das, yang satu lagi  pedas tetapi sayup-sayup sampai di lidah.”

Berapa menit kemudian dua bungkus gado-gado sudah siap..

“Pak, yang pedas karetnya dua, yang tidak (pedas) karetnya satu..” kata si Alay..

“Bang biar hemat, yang pedas karetnya satu yang nggak pedas jangan pakai karet ajah..” – terbayang saya bangga bisa menghemat satu karet gelang..

“Tapi bapak mau bawa pulang bagaimana kalau tidak dikaretin, bisa ampar-amparan kemana-mana..”

Eh si alay ternyata lebih pandai daripada saya. Teknologi “biting” sudah lama ditinggalkan diganti karet gelang atau staples..

Sesampainya dirumah, gado-gado saya sikat ludes. Tetapi terdengar komplin – kenapa parenya nggak ada ya? – dan saya malahan tidak tahu apakah benda pahit tersebut ada atau tidak dalam piring.

@mimbar
April 2016

 

Kerja Bhakti


Kerja bakti ini dilakukan pada setiap akhir bulan.. Jadi kopi darat – setelah selama ini sibuk dengan diri sendiri dan hanya bersua lewat pesan WA. Teman-teman muda mengajak saya untuk aktip berpartisipasi dalam kepengurusan “untuk dituak-tuak-in”. Saya selalu menolak dengan alasan sangat sibuk menganggur.

Kelompok ini boleh mengklaim “penduduk aseli” – lantaran ketika mereka memutuskan tinggal disini – rumahnya dibangun dari “Nol Puthul” alias dari Babad Alas “Mertani.” – kalau dalam cerita Babad Alas Mertani, selalu diceritakan godaan membangun adalah di demo para demit yang merasa lingkungannya di rusak, penghasilannya berkurang. Dulu kami di “palak” lantaran cuma ” Pendatang”.

Tanahnya subur.  Air minumnya bersih.. Kami hanya menggunakan “pure-it” dan langsung minum.

Saya yang baru “masuk” tahun 2005 sudah dibilang “OPA” disini..

– Jadi kelak kami kan menjadi Leluhur…

Prestasi kelompok kecil ini sudah kentara… Mengecor jalan sepanjang 300m, membuat portal, lapangan Badminton dan Tennis Meja..Semua dengan sumbangan – dan ternyata anak-anak muda ini rela menyumbangkan misi, visi, dan gizi. Maap kate, yang kolot sih banyakan porsi visi dan  khutbah-nya..

Kerja bakti ini dilakukan sebab masih kerap ditemui Kobra di lahan-lahan yang masih tidur. Saya sendiri kalau kerja bhakti secara praktis membersihkan halaman dan kebun orang lain, lha asisten rumah tangga mbak Nani tiap pagi kerja bakti di luar pagar.

Sekalipun demikian, jangan kaget ada beberapa lahan tercatat ada yang 300-500 meter persegi, sudah puluhan tahun tidak bayar PBB, alias yang punya entah siapa…

Sebagian anggota – dr. Y merangkap Harry Potter dengan Nimbus 2016, me (cap), Col “marine” E70, Ir (sling bag), Col Mr G” duduk, Plo (duduk kaos hitam), GeoKi (sidakep), Avi (putih-putih duduk), Mur (topi), Manu kaos coklat (beliau lebih Leluhur ketimbang saya)

13055363_10207842082063014_1779843138100898968_n

Positip Thinking= Keyboard Rosak!


Sahabat saya yang setelah pensiun menjadi Marbot alias “kaum” – melalui Asisten Rumah Tangga menyampaikan pesan sms yang isinya .. “Bakda Dhuhur akan main kerumah.”

Begitu ketemu.. usai salaman. Sahabat tadi langsung bilang “positip thinking aja ya pak…” – tentu layaknya orang Jawa ia tak lupa mengucapkan maaf kopang bin kaping.. Saya mulai mencium  gelagat tak sedap..

Soalnya kata Positip Thinking …yang sudah sudah biasanya ada berita yang Tidak Baik (bad news) atau Tidak Baik sampai ancur (Very Bad news)…Atau ada kritik pedas mengenai perilaku saya.. tapi saya nggak boleh tersinggung.. ya istilahnya “positip thinking..itu tadi”

Ia membetulkan letak duduk.. di kursi panjang kami seperti LGBT naik angkot. Dempet..nyaris..

Begini pak!- kata lelaki mantan instruktur beladiri di TNI AU semasa mudanya.

Ia diam sambil wajahnya menekuni lantai..

Masalah Laptop anak saya Pak… Maap ya pak..

Tadi pagi waktu ia buka Laptop…. Lha si bapak, pakai jeda pula bicaranya seperti membacakan pemenang suatu acara kompetisi berdasarkan perolehan SMS.

Saya sudah menebak arah pembicaraan .. mereka protes akan tulisan saya di FB, atau di WA… Duh…

“Kalau dihidupkan cuma  bunyi cuit..cuit.. lalu diam saja diapa apain..  Apa virus ya Pak! .. apa isinya kepenuhan… ” dan segala apa ini apa itu..

Ya ampiyuuun .. saya kira kenapa..

Wah repot menduga duga rusak barang melalui telepathi.. Akhirnya saya bilang bisa dibawa laptopnya dimari …biar saya lihat..

Sahabat saya langsung pamit… hanya beberapa menit beliau sudah kembali dengan putranya dan laptop..

Laptop memang bermasalah tidak bisa dihidupkan lha wong charger tidak disertakan..

Untung saya positip thinking itu tadi..Di gudang ada laptop mangkrak yang baru setahun sudah dut-kapikadut. Laptop itu  milik bungsu saya. Setelah debu saya, charger saya check. Ada lampu biri menyala.   Untung chargernya masih berfungsi.

Ternyata dengan full power..laptop cuma menciut, gelap dan  “melongo”..

Saat bingung – tangan saya nunak-nunuk menekan salah satu keyboard. dan “ang..ing…eng”.. Simbol win7 muncul dilayar.. Setelah itu “melongo lagi”

Untung lagi.. saya punya cadangan Keyboard…yang langsung saya colokkan ke usb port dan voila.. laptop berjalan sempurna..

Saya bilang bahwa Keyboard rusak bukanlah kiamat. Saya menghibur dengan mengatakan laptop susia dua tahun zonder masalah sudah luar biasa. Komputer ASUS saya baru setahun kena masalah dengan keyboard. Menyurati pihak penjual – tiga bulan baru dijawab dan tidak bilang ya atau tidak, sehingga saya cuma balas emailnya “Never Mind”.. alias lupakanlah..

Sahabat dan putranya pulang dengan wajah berseri..

Sekarang saya yang melongo zonder cuwat-cuwit – memikirkan hubungan laptop dengan Positip Thinkingnya dimana..

@mimbar
April 2016