Mendadak di ajak foto..


IMG-20150901-WA0006Kalau ingat peristiwa ini saya kudu malu kepada saya sendiri. Pertama saya hanya mengantarkan putra saya untuk bertemu dengan mas Deddy Corbuzier. Tempat yang ditentukan adalah Studio Hitam Putih..

Pagi-pagi – jauh hari saya sudah mengingatkan putra saya bahwa, bertemu kesohor, pejabat sama sulitnya. Artinya kudu siaga usus panjang.

Betul saja setelah 4 jam menunggu (tidak termasuk beberapa jam kami datang lebih awal agar tidak terlambat), maka putra sayapun dapat gilirna bertemu dengan orang yang dikaguminya – ilmu OCD – Obsessive Corbuzier Diet – yang memang membuat tubuhnya “jadi terbentuk” – padahal seperti bapaknya – ia memiliki tubuh “buah pir” yang katanya sulit membuat six-pack.

Dan satu lagi yang tidak pernah dibicarakan dalam OCD – bahwa jerawat anak saya hilang dan wajahnya seperti pria yang langganan salon muka. Padahal tidak.

Sebagai penulis buku, kemanapun saya selalu bawa buku saya. Tidak ketinggalan ketika mengantarkan putra saya.  Sekalian buat kenangan – saya berikan satu buku kepada mas Deddy Corbuzier.. Lain pengharapan tidak.

Lho kok pria yang semula saya agak  simpatik dengan saya bicaranya (ia masuk daftar tak saya sukai sama dengan  dengan Host Manatha), malah menawari untuk berfoto dengannya. Ya saya sangat terimakasih. Malahan sang manager yang memotretkannya untuk saya.

Terimakasih mas Deddy Corbuzier.. sebuah kenangan indah bagi saya.. Dan ternyata beliau tidak seperti setting yang ditampilkan dalam shownya.

Foto ini tidak saya gunakan buat mengiklankan buku saya.. Hanya saya menegaskan kalau anda bermasalah dengan wajah yang berjerawat… Ada baiknya mencoba diet OCD…

September 2015
Baru tahap simpati OCD

Advertisements

Kuliner Bayi


IMG_0120Cucu kedua saya -Nara (2-1/2bln) kerap ditinggal oleh orang tuanya – bekerja. Sama halnya dengan kakaknya Anya (2-1/2th)-dulu.

Lantas – untuk menghindari susu formula, oleh ibunya ia ditinggali makanan aseli yang disimpan di mesin pendingin. Ini memudahkan kami sang Kakek dan Nenek untuk secara teratur memberikan mereka makan saat orang tua mereka berada di Kantor.

LIMA SEPTEMBER

Setiap bungkus makanan bayi ini diberi label, dan dikeluarkan berdasarkan Azas Praduga – FIFO – First In First Out. Semua berjalan lancar – sampai pada suatu sore, bayi dua bulan lebih sedikit ini usek-usek menolak minuman yang biasanya kami sampai kewalahan melayaninya.

Setelah semua usaha membujuknya gagal, kami coba mengganti susu dengan label lain (maksudya tanggal berbeda), wela tala.. dia kembali minum dengan rakusnya. Glegeg-en lalu pulas.

Sampai sekarang masih belum jelas – gerangan apa yang dimakan oleh sang ibu sehingga ada perubahan rasa dan aroma makanan alamnya. Bayi “cengik” kok ya sudah tahu kuliner. Kalau ibunya makan sesuatu lantas bayi nggak ACC – kok bisanya menepis makanan.

Mimbar Saputro 30 September 2015

Kursi VVIP Masih Kosong


KURSI VVIP MASIH KOSONG

Pada 26-27 September 2015, dikenal dalam kalender sebagai Mid Autum Festival – tapi ada kelompok yang suka menyebut Hungry Ghost.

Aktivitas ini biasanya bisa dikenali, banyaknya mobil parkir di area Klenteng, dan biasanya mereka sampai bikin panggung dan tenda di pelataran. Dan parkir di jalan – pada kegiatan seperti ini Pak Polisi Lalu Lintas (LTA), memberikan semacam dispensasi.

Seorang putri kita sejak dari Jakarta belum pernah – apa yang terjadi dengan aktivitas yang kadang menggunakan medium yang kerauhan (trance).. Iapun masuk diantara para jamaah.

Semua kursi terisi penuh.. Sial bener katanya..

Kecuali nampaknya ada beberapa kursi dekat panggung malah seperti dibiarkan. Biasanya untuk tamu VIP.

Tunggu punya tunggu upacara sudah separuh jalan tetapi VIP belum tiba. Ia melipir dikursi kosong paling belakang, lalu karena tak ada yang minat mengikuti jejaknya, ia bergerak ke kursi Lion Star Putih paling depan.

Sesi berakhir, dia katanya sempat ketakutan melihat beberapa orang kesurupan, menari, dan tingkah aneh lainnya..Lidah ditusuk, diputus..

“Secara Guwe paling takut tuh ama hantu.pokoknya tempat gelap….Tapi kalau masih siang agak beranian sedikit. Tapi kenapa aku duduk di depan sendirian orang pada ngeliatin aja.. Apa karena secara guwe cewe githu loh..”

Temannya lalu membisikkan sesuatu yang spontan wajahnya pucat pasi…

Kursi kosong yang dia duduki tadi sebetulnya untuk tempat duduk para arwah yang tunggu giliran meloncat memeluk tubih sang medium (dukun)…

Prosotan


Di T-2 Changi sementara cucu saya bermain dengan orang tuanya – sebuah pendidikan “antri” diperlihatkan pada satu arena permainan “prosotan” atau sliding tunnel. Perlu keberanian extra sebab prosotan ini dari lantai 2 dan mendarat empuk di lantai 1.

Tanpa berdesakan atau saling serobot, anak-anak menunggu giliran. Kalau lampu hijau menyala maka seorang anak akan memasuki ruang prosotan dan merosot secepat bisa sebab antrean masih cukup panjang. Selama lampu merah menyala itu berarti nun di bawah sana masih ada teman lainnya belum keluar terowongan.

Saya menunggu barangkali ada saja diantara mereka yang “degil” lantas nyeleneh. Misalnya sudah masuk platform, tapi balik lagi, takut..  Atau menyerobot antrean.

Sementara belum ada..

Mendadak lengan saya di-towel.. Seorang ibu muda – sepertiny warga Thai- dengan dua anak lelaki tanya sama saya…

“Tiket (prosotan) beli dimana?…”

Saya ya hanya menjawab “free ride, just queu up there” – “Gratis kok, asal antre saja..”

Eh tiga anak beranak ini kok cuma mbegegek…Kemudian menjauh..

Ternyata si sulung menolak prosotan gratis… Maunya prosotan yang bayar..

Ya uwisss… Yang tadi ini pameran anak apa ya… kok menolak gratisan

Mid Autum Festival/Minggu/27 Sep 2015
Changi T-2

Tepo Saliro


Jam makan di Terminal 2 Bandara Changi – hari Minggu, tidak sulit dibayangkan – adul-adulan. Warga Singapore telah menjadikan Bandara sebagai satu obyek rekreasi. Bukan cuma untuk nonton pesawat, atau lambai-melambai berpisah atau bertemu.
Tidak terkecuali resto Waralaba (Korea?) Four Fingers – yang pakai judul menggoda…
Now Halal At Last! lalu ada gambar gundul merenges..
Tapi meja-meja kosong masih penuh sisa makanan. Bayangan saya pertama kali adalah kemana para anak muda, yang biasanya kalau direstoran macam begini selalu gesit bergerak, apalagi kadang ada supervisornya.
Namun hayalan indah di Indonesia – harus saya telan dulu ketika muncul seorang amah dengan langkah gontai, lambat – mungkin selain beban usia, beban berat badan, beban asam urat, beban kolesterol seperti layaknya orang seusia dia dan… saya juga)..
Yang bikin saya jadi malu, ketika para pengunjung tanpa sungkan membersihkan sisa makanan tamu lain, dimasukkan kedalam tong sampah…
Kamipun ikutan demikian bahkan saking mantepnya.. Usai makan ayam goreng… Saya bersihkan meja kami…Sebelum pergi…

 

Wisata Kereta


WISATA KERETA..

Hari Libur bagi pensiunan macam saya ya nggak ngaruh.. libur melulu… Dunia minyak masih menahan tangis..

Tetapi cucu Anya dan Nara ..tidak demikian. Mereka masih butuh interaksi dengan dunia diluar. Bukan cuma dengan orang tua, kakek neneknya, dan aisten rumah tangga mbak Tini.

Maka sedikit berdebar ketika saya diajak – berdarmawisata- ke Airport. Bukan akan melihat “wawat” pesawat bermanuver naik dan turun. Lalu dadah-dadah saat pesawat lepas landas.. Atau saat beruntung berada dipesawat ketika mendarat dengan mulus kami masih bertepuk tangan (ini cerita Jadul).

Yang bikin deg-deg plus, kami menggunakan gabungan LRT dan MRT sehingga terbayang harus pindah beberapa stasiun dengan cepat. Yang bikin plus-plus-deg, ya sudah kali keberapa kemari, masih saja status ilmu saya pada level “Kali Inget, banyakan Kagak..”

RUTE- (NEL-CL-EWL)
Kalau anda masih cinta MejikuHibiniu – maka inilah cara saya menghapal rute.

Dari Kadaloor naik LRT ke Punggol. Turun ke bawah tanah, ambil MRT yang disebut jalur NEL (North East Line), bagi yang misalnya buta aksaramereka dipandu dengan pengenalan warna misalnya UNGU.

Saya lihat di catatan saya lagi, dalam perjalanan kereta jalur NEL, kami turun di setasiun SERANGOON.. untuk ganti jalur KUNING namanya CIRCLE LINE..Platform A.

Kami akan melewati Bartley-TaiSeng-MacPherson- dan Paya Lebar. Disini saya harus “njedul” dari perut bumi menghirup udara..Lalu melakukan sedikit olah raga kaki, dan naik lift lagi ke jalur HIJAU yang namanya EAST WEST LINE (Pasir Ris-JoKoon).

JALUR TAKSAKA
Jalur EWL – rel kereta apinya persis yang seperti dilewati Taksaka, artinya sepasang besi utuh. Keretanya agak endut-endutan sebab dengan kondisi Rel tergolong Tua, mereka harus melambatkan kecepatan dibeberapa ruas.

Dari Paya Lebar – setelah melewati Eunos-Kembangan-Bedok-TanahMerah..Kami turun di TanahMerah. Cari Platform 3, dan tunggu kereta MRT yang menuju ke Changi.. Kereta ini stop over di Changi Expo.

Di PayaLebar – anda bisa melihat para pekerja wanita – berkumpul – berlibur di tanah lapang, persis macam di Orchard Road.

Total waktu sekitar 90menit, memang ada sensasi sendiri karena Gonta-Ganti MRT dan LIFT (OrangTua dan Bayi kudu naik Lift).. Sensasi lain kok ya kalau pergi sendiri tetep nggak pinter-pinter..

SUPER MEGA MAL

Tiga terminal besar lalu digabungkan jadi satu T1,T2,T3 maka jadilah airport sekaligus Mega Mall – terutama arena bermain anak-anak dan apalagi kalau bukan makan siang. Jadi boleh dibilang – asap memang sudah meneror seluruh negeri – tapi iklan Airport diam-diam bilang – “kalau anda kemari- udara AC sudah difilter dari asap..”

Saya kebetulan butuh CD, sebuah piringan yang bakal mudah super gampang anda ketemukan di tukang fotocopy Bekasi..

Tetapi hermannya (heran nian) saya hanya mendapatkan angkat bahu sebagai jawab atas pertanyaan saya “do you have blank CD” – masih dengan mempersatukan jempol dan telunjuk membentuk bulatan. Sial bener.

TIDAK ASAL MASAK TIDAK ASAL MAHAL
Bandara sudah kondang di otak saya – SING-PENTING masakannya… – Maksudnya Sing Penting Mahal… dan Sing Penting Hidangkan seadanya..Coba – pernah pesan Nasi Rawon cuma koyoran daging dan kuah encer zonder sayur.. Itu Rawon Bandara dengan rasa asin menggigit.

Tapi ini lain..

Entah bagaimana caranya mereka mengatur – makanan di Bandara tidak terkesan asal masak dan celakanya Asal Mahal..pisan..

Makanan disini cita rasanya sama dengan makanan diluaran sono (non Bandara) dan harganya juga harga makanan diluar sono (kata yang mbayari)..

Sayang – Anya sedikit “ngadat” ketika diberi kentang goreng. Ia memilih bermain, apalagi bisa menggocek eyangnya.. Dia sudah seperti mendevelop gaya sepak bola.. Mata melihat ke kiri, bergerak beberapa langkah kekiri – saat saya menghadangnya dia sudah nggeblas ke kanan sambil ngakak. Dasar cucu..Bikin gemes..

Tetapi Anya telab-teleb ketika disodori Donat – yang hampir saya pikir dibuat dari spon pupur – saking lunak nya.

Catatan Bego saya bertambah.. Karena gonta ganti Lift, jadi punya kebiasaan menahan pintu lift agar kereta dorong bayi bisa lewat seandainya pintu lift menutup. Eh latah, pintu MRT dikira Lift lalu mau saya tahan.. Untung segera sadar kekeliruan….

Kentut


Ketika keponakan saya (Sita) melahirkan untuk pertama kali, kami berkesempatan menungguinya di rumah sakit di bilangan Kalimalang.
Sang dokter Kandungan aseli orang Komering (Sumatera Selatan) dan masih tautan famili. Sehingga bisa dibayangkan suasana mirip reuni keluarga sekalipun sang Ibu masih nampak terisak. Maksudnya berfoto ria-sudah seperti ritual.
Terjadi dialog – apakah Sita akan melahirkan  ala C-section atau tidak..
Sita – keukeuh kepingin lewat jalur Normal. Merasakan sakitnya jadi seorang ibu, katanya.

Dokter Marzuki dengan kalem  hanya menjawab dalam bahasa Palembang..

Nak Lewat pinggir Pacak (bisa), nak lewat Bawah Jugo Pacak.. “- terjemahannya mau lewat sesar maupun normal semua bisa.. Yang pokok, bayi sehat juga ibunya..

Lalu perut Sita diraba- dan ia menggeleng kepala..

“Dak Pacak(nggak bisa)..musti di bedah… ” – posisi kepala bayi perempuan ini sudah miring kesana-miring kemari-tralala.

Maka dalam waktu satu jam, keluarlah jabang bayi perempuan dengan berat 3,2 kilogram, Panjang 48cm..

WA keluarga mulai ramai dengan komentar, doa di WA.. Dan semoga Tuhan juga punya WA dan sempat membaca status kami di Fb dan WA.. Maklum – dulu berdoa cukup di hati.. sekarang harus melalui WEA atau BBM atau FaceBook.

Satu status menulis ucapan selamat..

Wah Empat kilo, besar juga.. Selamat ya..-

Lho kok empat kilo sih.. Itu bayi atau Akua Gallon..

Buru-buru WA kami jawab terkoreksi – Woi sodara-sodara bobotnya 3,2 kilogram yang betul..

Ternyata, beberapa pesan masih menyertakan angka 4,0 kilo. Ternyata (lagi) budaya copy paste memang sudah kronis.. Berita entah benar atau salah – langsung disebarkan..Zonder dibaca.

WA dijawab 3,2 kilo bukan 4,0 kilo…! (ngambek)
Dijawab lagi ” kalau beda-beda tipis – jamak lah..”
Ini status atau lelang pasar Ikan..

Saya embahnya lantas mengubah cara penulisan simbol menjadi hurup…

Bayi Perempuan Beratnya Tigo Kilo Duo Mato (bahasa Palembang Mato=ons).

Nampaknya pesan saya segera dimaklumi dan tak ada salah tulis lagi.

KENTUT
Biasanya pasien pasca operasi baru boleh makan atau minum setelah bisa kentut.. Umumnya dibantu dengan distimulasi dengan suntikan yang baunya minta ampun..

Mujarobat – begitu Sita disuntik obat kentut.. tidak lama terdengar suara dut dut dut.. seperti berasal dari orang dewasa.

Nenek yang harusnya merasa senang kai ini nampak Gusar.. Yang membuat naik pitam pasalnya suara berasal dari Kakeknya yang kena transfer ilmu pindah raga..

Sita sendiri masih plompang plompong belum mau keluar suara dut..
Kalimalang 10 Sep 2015