Toleran terhadap AMBIGUITI


Toleran terhadap AMBIGUITY..
Tiga bulan setelah kelulusannya, Jeff melamar kerja ke sebuah penerbitan Koran di Phoenix – Amerika.
Pimpinan Redaksi yang akan mewawancarainya – bahkan menjemput calon wartawan ini di Bandara. Setelah makan siang, Jeff diturunkan disebuah pusat keramaian di pinggir sungai.
Bukan wawancara yang ia dapatkan melainkan “Cari Berita dan Tuliskan” – padahal hari menjelang sore. Jeff diminta laporannya siap pada jam 17:00. Sempat shok akan tugas tak disangka-sangka, lantaran ia sangat asing akan daerah tersebut, Jeff mencoba mewawancarai pedagang, pejalan kaki, warga setempat semua tidak menarik untuk ditulis sebagai Feature.
Untunglah ia menemukan cerita bagaimana sebuah kampanye terpaksa dihentikan karena badai. Tugas menulis Featurepun diselesaikan dengan baik.
Ternyata Redaksi sama sekali tidak tertarik akan reportase yang susah payah ditulisnya. Tapi ia diterima bekerja di sana.
Belakangan pemimpin redaksi mengatakan bahwa Tugas Menulis Berita – bukan sebuah ujian sesungguhnya. Yang mereka inginkan adalah bagaimana seseorang sarjana mengadopsi situasi ketidakpastian, bagaimana bersikap di tempat yang sangat asing baginya.
Rupa-rupanya Pemred kerap menguji calon sebelum Jeff. Semua gagal lantaran banyak calon memperlihatkan sikap Gugup dan Tak tahu harus bagaimana. Ada yang malahan lebih banyak bertanya secara detail tugas yang harus dilakukan.
Terlalu banyak lulusan perguruan tinggi, saat melamar kerja melakukan pendekatan persis seperti sylabus sekolah. Mereka menganggap bekerja seperti menghadapi soal ujian. Sedikit ketidak pastian.. membuat moral berantakan.
Ketika teknology berkembang misalnya masuknya artificial intelligent untuk membantu manusia, maka banyak pekerjaan yang dulu dianggap penting menjadi barang museum.
Sukses masa didepan diraih oleh orang yang mampu mentolerir ambiguity dalam pekerjaannya. “Kerjakan pekerjaan sebaik mungkin sekalipun anda tidak diinstruksikan melakukannya..” – demikian tips dari bekas CEO Starbuck..
Secara tidak sadar – para orang tua lebih menghargai anak-anak mereka karena Pandai di kelas.
Jarang orang tua menghargai anak-anaknya yang berusaha jungkir balik sekalipun hasilnya tidak memuaskan. Anak yang Pandai di kelas (tapi sedikit belajar misalnya), akan cenderung mudah putus asa bila menemukan hal yang diluar kendali mereka.
Itulah sebabnya banyak penulis – tidak berasal dari sekolah Publisistik atau Kewartawanan. Mereka justru banyak datang dari anak Teknik, Kedokteran yang boleh jadi dimasa awal hidupnya sering menemui “kesulitan” alias ambiguity. Sampai-sampai ITB (Institut Teknologi Bandung diplesetkan menjadi Instituk TeknikJurnalistik Bandung, dan IPB Institut Pertanian Bogor menjadi Institute Pewartawanan Bogor.

Advertisements