PISANG


Nyadran tahun ini (2015), saya menyempatkan ke Lampung. Selain merawat tiga “pepunden” disana – maka beli oleh-oleh sederhana adalah ayat kedua yang dilaksanakan namun tidak disebutkan dalam Nawaitu. Artinya sudah otomatis.

Pertama Kopi “Klenteng” kesukaan saya langsung dibeli di tempat tumpah darah kopi tersebut dilahirkan.

Setelah Mie (ayam) Lampung, maka menyusul Pisang Tanduk. Jauh-jauh beli pisang jawabnya sama dengan orang Yogya makan Gudeg Ju Djum-Wijilan. Ada keterlibatan emosional disana.

TKP kami adalah salah satu dari jejeran gubuk reyot yang lokasinya di pinggir kiri, saat kendaraan mulai menanjak di Tanjakan Tarahan. Seperti diketahui saat anda setelah melalui Jembatan Serampok, dikiri kanan ada tumpukan BatuBara – Bukit Asam dari situ anda memasuki perjalanan perbukitan. Desanya sering terbaca Cintamaya. Tapi nama ini seperti terbalik bila diingat keangkerannya. Waktu saya masih kecil sama horornya dengan Gombel-Semarang. Banyak laka membuat pemda memperlebar jalan ini.

Tahun ini sekalipun agak sulit mendapatkannya tapi akhirnya kami dapatkan juga pada penjual tandanan pisang dengan harga menyesuaikan dolar. Kami beli yang setengah matang dengan harapan sesampai di Jakarta mulai bisa direbus. Saya berfantasi – gigitan pertama pisang rebus kadang diikuti seperti sensasi pegal di rahang, kendati tidak selalu demikian.

Sampai di rumah Mbak Nani asisten rumah tangga kami selalu menggantungkan pisang didinding, maksudnya agar dijauhkan dari segala gangguan tikus kebun masuk melalui kabel listrik kedalam rumah. Mereka minta jatah “preman” berupa satu atau dua lubang pada buah pisang, papaya, jagung, mangga.

Tapi sudah satu minggu – Tidak nampak tanda pisang akan matang. Tikus kebunpun sepertinya melecehkan oleh-oleh yang jauh-jauh dibawa dari Lampung. Padahal, biasanya sepotong bisa menarik para tikus masuk jebakan kawat yang dipasang oleh asisten Pak Lanjar. Bila tertangkap nasibnya menjadi “Food Chain” – rantai makanan dari seekor ikan Gabus Toman di kolam belakang yang sudah bisa menelan anak ayam.

Feeling mbak Nani sang asisten sepertinya mencium ada yang tak beres pada pisang ini. Betul saja ketika di GODOK – rasanya tidak kekanan tidak kekiri. Untung saja pisang belum di-sharing ke tetangga karena tak lulus “QC” (Quality Control) dari mbak Nani.

Penjual pisang apa tidak sadar bahwa memberikan barang tak berkualitas akan berakibat iklan buruk bagi mereka. Ribuan orang melintas jalur Sumatra setiap hari. Tempat ini seperti lapak jual Talas di Puncak, pengunjung datang silih berganti.

Kalau keburu di cap buruk – maka dampaknya akan sepi pengunjung. Atau boleh jadi merekapun tidak “ENGEH” – hasil panen kebunnya kurang bagus. Atau kebutuhan hidup membuat mereka nekad jual dagangan asal-asalan.

Mei 2015

Advertisements