BPJS dan ATM


Ketika BPJS sudah pukul genta, kami tidak henti-hentinya melakukan getok tular kepada asisten rumah tangga, kerabat. Kadang sedemikian rupa sehingga kalau perlu mereka libur agar bisa urus. Tidak cuma sampai disitu – kami lakukan pengecekan apakah benar mereka mengurus. Kami cuma bisa mengatakan “Kalau sudah sakit dan kritis… lantas baru akan urus.. siapa yang mau antrean panjang di kantor BPJS”

Lumayan racun BPJS cepat diserap dan feedback (masukan) bahwa tatkala mereka sakit, mendapatkan perawatan gratis dibeberapa Puskesmas.

Lalu gantian saya yang kepingin ikut. Saya searching di Internet.. banyak yang sudah menulis sehingga sangat membantu.. Misalnya nama Link BPJS, sediakan E-KTP, NPWP, Kartu Keluarga, E-mail, Nomor HP dan harus punya rekening di salah satu bank negeri yaitu BNI, BRI atau Mandiri.

Cara mengisi formulir online cukup sederhana… Beberapa Langkah kemudian masuk ke babak SAVE… Kalau ternyata data belum sreg oleh komputer di berikan peringatan data yang butuh verifikasi..

Selesai.. tinggal buka email dan saya cek email bagian SPAM siapa tahu email masuk sini (spam). Email saya tidka lama kemudian terisi oleh kabar baik dari BPJS. Saya sudah memiliki nomor registrasi, nomor ini saya AKTIPKAN dan setelah AKTIP saya dapat Nomor Virtual Account (VA) untuk sarana pembayaran di ATM. Awal begini memang secara fisik kita harus ke ATM untuk membayar iuran bulan 1 sebesar Rp 59,600.

 ATM JATIASIH

Saya sudah didalam ATM – Mandiri Kantor Cabang  Jatiasih – ketika saya lihat para ibu sedang antrean didalam bilik sambil bercakap dengan pengguna ATM sebelahnya. Seorang anak gendongnya  .. Ia sedang dalam proses menarik uang, namun menyempatkan diri berhaha hihi dengan bukan teman sebelahnya.

Mendadak – ia mundur dan mempersilahkan antrean dibelakangnya (seorang Ibu) untuk menggantikan tempatnya.

Zaya mHau ambil ATM Dua Zuta… Tapi antrean banyak..Ibu ini Saza dululah.. Zaya ambil yang SeZuta belakangan..

Saya tersentuh dengan empati “being considerate”. Nampaknya sambil menghitung pecahan limapuluhan segepok, ia memberikan pengetahuannya.

“ATM ini yang isi duitnya bukan orang Bank, tapi kontrak.. Mana tahu mereka zizipkan uang palsu …” – itu kata yang ia utarakan sebelum mencelupkan Jempolnya lalu jari yang sama digunakan untuk menghitung uang…

Logat nya macam dari uzung Zumatra, wajah dan busananya  mirip tokoh rekaan  TV Australia yaitu “Mardiyah” dalam filem dokumenter “Ritual Sex Gunung Kemukus” ketika ia menilpun tokoh “Gepeng” yang bukan suaminya untuk berkencan setelah mencari ritual pesugihan yaitu tabur bungan di Nisan Pangeran Samodro dan mandi disendang Ontrowulan..(dan seperti biasa selalu dibantah oleh pihak terkait – seperti juga dalam doumenter durasi 12 menit ini).

Saat mereka mengobrol saya mengalami kesulitan kecil lantaran ada pertanyaan “Bulan” yang hanya boleh didisi Bulan 1 kalau ini iuran pertama. Apakah selanjutnya saya harus membuat daftar urutan bulan 1,2,3, dan seterusnya.. Bakalan rempong…

Lho ibu yang tersangka “Mardiyah” tadi suaranya sudah ada dibelakang saya “Nah ITU BETUL” – ternyata sudah seperti guru jaga ulangan umum. Bisa mengendus dibelakang seperti langkah kucing tak terdengar..

Ini ATM atau acara PKK kursus membuat Dodol Durian…

BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Advertisements