Biar Aman..Nyetir sambil Buka HP


P1060759KETIMBANG DARI NAIK  TOYOTA Pindah ke  YAMAHA(DIPATI)..

*****

Jarak “base camp” kami menuju Rig pengeboran sekedar 15 kilometer.  Dari kamp dengan elevasi  1900 meter diatas muka laut menuju puncak 3000 m (kurang dikit) masih diatas muka laut. 

Mobil jemputan  (foto di FB) kami dipagi buta jam 04:45 tentunya akan disiapkan Lambat Merayap mendaki gunung berkelok dan hanya diterangi oleh Sinar Air Embun (awan), melewati lokasi WUKAWUKA penuh cerita orang hilang, gunung keramat pendeknya mirip filem horror yang paling umbar asap putih.

Lampu “sairun” alias sirine sudah berputar-putar pada atap kendaraan. Tapi mobil masih mangkrak juga.. 

Rupanya ada gangguan dengan lampu depan. Karena waktu sudah mendesak yaitu pergantian PLOEG, maka kendaraan dipaksa melaju dengan penerangan ala kadarnya menuju Kantor pusat kendaraan untuk ganti Truk lain.. Hanya sepuluh menit kami sudah sampai di bengkel besar pusat ngepul kendaraan dengan bantuan sesekali lampu sorot dari kamp kamp kecil yang kami lewati..

Ternyata yang tersedia adalah Lancruiser putih…Kuda Besi dengan mata belo yang mencorong terang.. 

Kami bersiul bergegas pindah untuk kemudian menghela napas panjang lagi… Lampu DASHBOARD MATI…

Blaik..blaik..

Mau nggak mau kami ngetem juga di TOYOTA LANDCRUISHER yang baru usia 2 tahunan ini selama 60 menit melewati jurang dengan supir sibuk mengarahkan lampu HP-nya guna membaca panel didepannya…

Jam menunjukkan pukul 05:00 pagi..

Kamipun sampai di Rig sekitar pukul 06:00 pagi, dengan ketinggalan rapat pagi…

Perusahaan yang begitu royal keluar uang  apalagi menyangkut keselamatan, tetapi kalau “software” dibelakangnya nggak perduli dengan perawatan.. ya fatal jadinya..  Padahal disini kami tidak mengenal alasan “tidak ada dana” .. Atau belum ada “drop-dropan” – buat catatan, baru kali ini saya bekerja di rig darat dengan biaya operasi satu juta dolalr perhari. 

Faktor manusia memang sulit dibaca bisa dianalogikan presiden barangkali ya.. Presidennya bagus kalau anak buahnya masih “abu nawas” kata wong Palembang sana, maka lingkaran setan jadinya.

(mohon permisi kebelet skeptis). 

 

PNG 23 Jul 2014

Advertisements