Pura-pura jadi penumpang kelas Bisnis


Rasanya tidak betah juga duduk terlalu lama disebuah kafe Bandara Moresby. Satu-satunya kafe yang isinya Sandwhich, Pie serta sejenis PopMie. Setelah sekaleng Zero Diet dan kue Beef Pie saya embat… perlahan jarum jam sudah memperlihatkan waktu 13:00 – sementara pesawat boarding 14:30… Sayapun beranjak, apalagi melihat beberapa orag bingung mencari kursi kosong.

 

Dipintu masuk.. petugas sekurity memeriksa kartu kuning saya… Ini kartu laporan “departure” alias kartu embarkasi.. Ia mengamati dari atas sampai bawah seperti mengawasi PR anak murid yang bandel.

 

“sudah ditandatangani?” tanyanya… Saya merasa muda kembali… Mengisi kartu satu muka seukuran Kartu Pos.. masih harus diawasi petugas Keamanan berpakaian macam Pilot Sukhoi warna hitam..

 

Saya lihatkan tanda tangan saya.. Tanda tangan sudah memuaskan sekurity.. Lalu ia tanya ..

 

“Naik Pesawat jam Berapa..”

 

“Jam 14:30 ” – kata saya…

 

Sekurity menunjukkan tangannya kesebuah jam bandara .. “masih lama”  katanya nanti saja kalau sudah jam 14:00… baru boleh masuk…

“Jalan-jalan dulu ke kota..”

 

Jelas pak Security belum “NGEH” bahwa ada proses “Imigrasi”,  proses geledahan isi tas kabin yang terkadang memangkas waktu sampai 20 menit…

 

Dan satu aturan bagi kami pekerja Asing… tidak boleh naik Taksi tanpa pengawalan… Saya pernah naik Taksi.. malah diajak kerumah pak supir.. diajak makan siang bersama… lalu menengok rumah ibadah mereka… Tapi kan tidak semua taksi sebaik supir yang ini…

 

Tiba-tiba ada tanpa dipikir mulut keprucut boong “Saya mau ke Lounge Bandara” – Misterinya security main percaya saja bahwa saya penumpang kelas Bisnis kelas Borjuis (padahal bukan)..

 

Dan sayapun melenggang masuk ruang tunggu…

 

Advertisements