Panic Line


paniclineDi Rig Pengeboran banyak dijumpai alat-alat bor yang kalau diterjemahkan menjadi unik.. Widows Maker (pembuat janda), Geronimo Line, CatWalk, dan satunya adalah PANIC LINE (PL)

Seperti nampak pada gambar kiri, pipa berdiamater empat setengah inchi atau sebelas setengah sentimeter ini tugasnya nampak sepele tapi penting.. Ia seperti Knalpot Motor Dua Tak. Motornya sendiri adalah peralatan namanya BOP atau Pencegah Semburan Liar. Tapi knalpot a.k.a Panic Line jarang difungsikan kecuali keadaan bahaya… misalnya meng-afblas- tekanan gas yang sudah meronta-ronta dari dalam sumur. Teman-teman ATL (Ahli Tehnik Lapangan) di Pertamina menyebutnya Flare Line – pipa bakaran gas.

PL ternyata sangat diistimewakan posisinya.. Ia satu-satunya benda atau “Rig Property” yang boleh selonjoran sampai keluar pagar pengaman.. Padahal yang lain “Nehi Mahabat Cahe” – ini bahasa saya kecil (lahir 1953), kalau kami menirukan filem India.. Jelas artinya tidak jelas..

Gara-gara sering kelojotan ada kecenderungan ia “mbabit” membabibuta sampai menghantam dan merobek pagar pengaman. Lalu pagar sekitar pipa merah dirobek sebatas orang bisa keluar masuk “mbrobos” pagar sekitar pipa.. Dan cerita tidak berakhir disini..

DIMANFAATKAN PENYUSUP GELAP (ASSASIN)

PL tadi kalau sudah dilalui gas bertekanan tinggi bisa melompat kelojotan macam Ben Anderson di KO oleh Rashad Evans (ini cerita UFC). Agar tidak copot ataupun mencelakakan orang makan ujung pipa ditindihi tangki air selain dirante habis kebumi.

ASASIN MASUK

Wilayah kami Papua Timur kondang dengan perang Suku. Ini memang sejalan dengan kepercayaan mereka sebelum agama lain masuk bahwa darah yang menetes – tidak akan sia sia melainkan digunakan untuk penebusan atas suatu kesalahan. Nah repotnya disatu pihak yang tiap minggu mereka percaya sudah ada seorang yang menebus mereka. Tetapi hati nurani tetap seperti kepercayaan berabad abad silam…

Pertempuran ini ternyata bukan seperti tontonan di TV. Dua pihak berseteru ketemu di kebun, lantas teriak teriak “wuwuwuwuwuwuw” macam Indian akan menyerang, lalu jleb jleb tombak dan panah saling menyerang. Tidak..sama sekali tidak…

Ternyata yang terjadi disini adalah mesiu sudah terlibat.. Bahkan sudah meniru cara Mosad mengejar ex Nazi Jerman. Salah satunya adalah ketika kami kedatangan kelompok bersenjata api – dan mereka masuk menerobos lubang PL yang notabene cuma 5 meter jaraknya dari KABIN Mudlogging saya. Horornya lagi yang akan dieksekusi adalah teman sekerja saya, satu kabin dengan saya. Menghilangkan nyawa orang kok nggak ada itung-itungannya ya..

Kadang kalau saya baca berita di Irian Jaya – terjadi penyerangan kelompok bersenjata.. DIsini yang urusannya cuma pertikaian BABI, Wanita atawa Senggolan di pasar bisa berujung perang masal tak berkesudahan.

Suatu malam, sekitar tengah malam. Empat orang “assinator” berhasil masuk lengkap dengan coverall dan tanda pengenal yang dipalsukan. Begitu cermat keponakan Kepala Suku (yang diincar) ini diikuti gerak geriknya, maka seorang eksekutor sudah tinggal dor… kok teman saya tadi seperti instink dia berjalan dari kabin ke Rig sehingga diendap endap sampai ke Lantai Bor..

Lagi-lagi lantaran belum nasib, ada pekerja yang melihat seseorang pegang senjata tetapi tidak pakai Helm.. Akhirnya semua masuk ruangan driller yang memang full pressurized jadi tertutup macam pesawat terbang..

Kode bahaya dibunyikan, anjing penjaga dilepas sambil seua rig dan camp model STELLING (siaga 1). Bahasa rig “Lock-Down”. Sejak itu lubang pada pagar ditambal, dan diberi 4 gembok. Polisi dan Tentarapun kami datangkan. Dan itu tidak gratis sebab belakangan ada yang klaim overtime macam orang rig.

Sekarang, ada ketentuan baru bahwa keberadaan PL boleh dilepas.. Maka saya mengabadikan teman “benda mati” yang menyaksikan bagaimana orang mengendap-endap diterpa hujan dan dingin angin pegunungan, rela berjalan ratusan kilometer, menaiki bukit terjal, menerobos hutan – demi satu misi “menghilangkan kehidupan” seseorang.

Advertisements