Suwiran Telas (habis), Tahu Bacem Juga Habis


Beberapa ratus meter sebelum bandara Maguwo, setelah hotel Shearaton, mobil yang dikendarai mas Roto segera menepi. Apalagi kalau bukan keperluan membeli jajanan khas Yogya yaitu Gudeg “YD”.

Pukul 12 tengah hari ditingkahi hujan mengguyur kota ini sehingga saya hanya memotret didalam gedung. Rupanya alam tidak mampu menaklukkan para kuliner pecinta Gudeg terkenal yogya yang sudah kondang sampai dibelain  ditenteng “cabin baggage” ke luar negeri.

Kami cuma bisa nelangsa membaca deret aksara “SUWIRAN HABIS” – yang artinya jangan harap menikmati daging ayam yang sudah dicabik-cabik. Buru-buru kami pesan Tahu Bacem campuran Gudeg yang ternyata seperti diperuntukkan untuk kami sebab setelah itu, Tahu Gudegpun bablas. Yang kecewa adalah pelanggan dibelakang saya.

Satu kotak besar umumnya berisikan racikan Gudeg yang berupa nangka kecoklatan dan manis, beberapa potong ayam yang sudah lunak dagingnya sehingga bisa dilepas dengan kekuatan seperti menulis halus kasar, telur ayam, sambal goreng krecek dan tahu bacem ala Gudeg…

Gudeg ini tergolong “Kering” sehingga tidak akan dijumpai misalnya daun singkong, atau kuwah gudeg. Tentu tujuannya agar dapat tahan lama dibawa ke luar daerah/negeri. Kalau saja saya Chef, maka komentar negatif cuma satu – presentasi Gudek teramat monoton. Coklat dan coklat domination. Kalau ada yang hitam paling telur ayam yang gosong.

Dan sebagai menghemat waktu dan alternatif, apalagi gudeg utama sudah habis kami malahan menikmati Gudeg+Bakso  yang lain di arena ruang kedatangan Maguwo yang merangkap ruang para ahli hizab tembakau. Gudeg yang saya tenteng, buat oleh-oleh saja.

Advertisements